Di Balik Goyangan dan Lagu, Kisah Abah Rudi Bertahan Hidup di Simpang Dago

- Jumat, 16 Januari 2026 | 19:36 WIB
Di Balik Goyangan dan Lagu, Kisah Abah Rudi Bertahan Hidup di Simpang Dago

Kemacetan di Simpang Dago, Bandung, memang sudah biasa. Tapi di tengah riuhnya kendaraan yang saling serobot, ada satu sosok yang menarik perhatian. Seorang lelaki berkemeja dan berpeci bergerak lincah, tubuhnya bergoyang ringan mengikuti irama lagu-lagu yang akrab di telinga. Bagi para pengendara yang terpaksa berhenti, ia mungkin cuma hiburan sesaat. Sekilas saja.

Namun bagi Abah Rudi, pria 58 tahun itu, ini bukan sekadar hiburan. Ini soal bertahan hidup.

“Alhamdulillah kalau buat hiburan mah engga,” katanya dengan mantap, menanggapi pertanyaan soal rasa lelah.

Gerakannya masih sigap, meski usia tak lagi muda. Sudah tujuh tahun ia menjalani rutinitas ini, mangkal di kawasan Dago, Cikapayang, sampai Jalan Sulanjana. Ia tak sendirian. Ada komunitas kecil dari Sidolig yang jadi teman seperjuangannya, mengisi persimpangan kota dengan nyanyian seadanya. Hari itu, Abah ditemani Pak Osa dan Mbak Yati. “Dari komunitas juga,” ujarnya.

Menurutnya, jalanan ini adalah ruang rezeki terakhir yang masih terbuka lebar. Usia tua justru bukan alasan untuk berhenti.

“Nyari buat makan sehari-hari aja,” ucapnya lirih. “Udah tua mah mau kerja apalagi atuh.”

Soal penghasilan, semuanya serba tak pasti. Di hari yang ramai dan para pengendara sedang murah hati, bisa terkumpul seratus ribu rupiah. Tapi di hari-hari biasa, ia bersyukur jika dapat tujuh puluh lima ribu, atau bahkan lima puluh ribu. Cukup untuk sekadar makan. “Alhamdulillah buat makan,” katanya lagi.

Rutinitasnya dimulai sejak siang. Ia berkeliling dari satu simpang ke simpang lain, berhenti hanya jika hujan turun. Di antara kepulan asap knalpot dan sahutan klakson, ia terus bergoyang. Itu adalah caranya bertahan, sekaligus cara sederhana menghibur orang-orang yang hanya berpapasan dengannya beberapa detik saja.

Di balik senyum yang selalu ia pasang, tersimpan keteguhan yang dalam. Di kota besar yang serba cepat ini, masih ada orang seperti Abah Rudi. Mereka mengandalkan suara, gerak tubuh, dan secercah optimisme untuk menyambung nyawa.

Lampu lalu lintas akhirnya berubah hijau. Kendaraan pun melaju, meninggalkannya di tepi jalan. Lelaki tua itu mengambil napas, bersiap untuk ketukan musik berikutnya. Bagi Abah, hidup ini berjalan dari satu lagu ke lagu lainnya. Tubuhnya mungkin menua, tapi semangatnya masih tegap berdiri, bertahan di setiap ruas jalan yang ramai.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar