Kemacetan di Simpang Dago, Bandung, memang sudah biasa. Tapi di tengah riuhnya kendaraan yang saling serobot, ada satu sosok yang menarik perhatian. Seorang lelaki berkemeja dan berpeci bergerak lincah, tubuhnya bergoyang ringan mengikuti irama lagu-lagu yang akrab di telinga. Bagi para pengendara yang terpaksa berhenti, ia mungkin cuma hiburan sesaat. Sekilas saja.
Namun bagi Abah Rudi, pria 58 tahun itu, ini bukan sekadar hiburan. Ini soal bertahan hidup.
“Alhamdulillah kalau buat hiburan mah engga,” katanya dengan mantap, menanggapi pertanyaan soal rasa lelah.
Gerakannya masih sigap, meski usia tak lagi muda. Sudah tujuh tahun ia menjalani rutinitas ini, mangkal di kawasan Dago, Cikapayang, sampai Jalan Sulanjana. Ia tak sendirian. Ada komunitas kecil dari Sidolig yang jadi teman seperjuangannya, mengisi persimpangan kota dengan nyanyian seadanya. Hari itu, Abah ditemani Pak Osa dan Mbak Yati. “Dari komunitas juga,” ujarnya.
Menurutnya, jalanan ini adalah ruang rezeki terakhir yang masih terbuka lebar. Usia tua justru bukan alasan untuk berhenti.
Artikel Terkait
Persebaya dan Persib Bermain Imbang 2-2 dalam Laga Sengit di Surabaya
Jadwal Imsak dan Shalat di Medan Hari Ini, 3 Maret 2026
PSM Makassar Tumbang 2-4 dari Persita, Suporter Turun Lapangan Protes
Longsor di Jalur Bromo, Truk Terjun ke Jurang 50 Meter