Di Balik Goyangan dan Lagu, Kisah Abah Rudi Bertahan Hidup di Simpang Dago

- Jumat, 16 Januari 2026 | 19:36 WIB
Di Balik Goyangan dan Lagu, Kisah Abah Rudi Bertahan Hidup di Simpang Dago

“Nyari buat makan sehari-hari aja,” ucapnya lirih. “Udah tua mah mau kerja apalagi atuh.”

Soal penghasilan, semuanya serba tak pasti. Di hari yang ramai dan para pengendara sedang murah hati, bisa terkumpul seratus ribu rupiah. Tapi di hari-hari biasa, ia bersyukur jika dapat tujuh puluh lima ribu, atau bahkan lima puluh ribu. Cukup untuk sekadar makan. “Alhamdulillah buat makan,” katanya lagi.

Rutinitasnya dimulai sejak siang. Ia berkeliling dari satu simpang ke simpang lain, berhenti hanya jika hujan turun. Di antara kepulan asap knalpot dan sahutan klakson, ia terus bergoyang. Itu adalah caranya bertahan, sekaligus cara sederhana menghibur orang-orang yang hanya berpapasan dengannya beberapa detik saja.

Di balik senyum yang selalu ia pasang, tersimpan keteguhan yang dalam. Di kota besar yang serba cepat ini, masih ada orang seperti Abah Rudi. Mereka mengandalkan suara, gerak tubuh, dan secercah optimisme untuk menyambung nyawa.

Lampu lalu lintas akhirnya berubah hijau. Kendaraan pun melaju, meninggalkannya di tepi jalan. Lelaki tua itu mengambil napas, bersiap untuk ketukan musik berikutnya. Bagi Abah, hidup ini berjalan dari satu lagu ke lagu lainnya. Tubuhnya mungkin menua, tapi semangatnya masih tegap berdiri, bertahan di setiap ruas jalan yang ramai.


Halaman:

Komentar