Tapi realitanya? Kadang kita masih saja terperosok. Masih korupsi, masih bergunjing, masih melakukan hal-hal yang jelas-jelas dilarang. Kalau begitu, apa artinya?
Itu pertanda bahwa iman kita belum benar-benar menetap. Masih goyah.
Imam Syafii pernah bilang, iman itu yazid wa yanqush, bisa naik dan bisa turun. Bahkan bisa hilang sama sekali, lalu datang lagi. Nabi sendiri dalam sebuah hadis menyebut, saat seseorang mencuri atau korupsi, imannya sedang terbang dari dirinya.
Dari sini kita bisa tangkap hikmahnya. Salat lima waktu itu ibarat checkpoint, pengingat berulang untuk menjaga koneksi dengan Allah SWT. Agar kita tidak jatuh terlalu dalam ke lubang yang salah.
Kalau kita bisa menjalani dua perjalanan horizontal dan vertikal ini dengan baik, efeknya luar biasa. Bukan cuma dicintai oleh Sang Pencipta di langit, tapi juga bisa meraih cinta dari sesama di bumi. Manusia dan makhluk lainnya. Itulah keseimbangan hidup yang sejati.
Artikel Terkait
Bone Siapkan Empat Bus Sekolah Ber-AC, Dikawal Satpol PP
Perantau Indonesia di Malaysia Rayakan Ramadan dengan Rindu dan Adaptasi Budaya
Cuaca Makassar Didominasi Berawan, Waspada Hujan Ringan Sporadis
Wolverhampton Wanderers Kalahkan Liverpool 2-1 dengan Gol Injury Time