Kalau dilihat lebih detail, komposisinya punya cerita sendiri. Investasi dari dalam negeri (PMDN) menyumbang Rp 149,8 triliun, sementara penanaman modal asing (PMA) berada di angka Rp 147,02 triliun. Artinya, hampir seimbang.
Ini menunjukkan sesuatu yang krusial: perekonomian Jabar tidak menggantungkan diri sepenuhnya pada modal asing. Kekuatan pelaku usaha dalam negeri ternyata juga solid dan punya andil besar.
Lantas, apa dampaknya bagi warga? KDM berharap, derasnya investasi ini bisa membuka lapangan kerja yang lebih luas. Tak hanya itu, geliat usaha mikro dan menengah diharapkan ikut terdongkrak, mendorong pemerataan hingga ke wilayah-wilayah lain.
Namun begitu, pembangunan tak boleh lepas dari kendali. Pemerintah daerah berjanji terus melakukan pembenahan, mulai dari menyederhanakan birokrasi hingga memperkuat infrastruktur pendukung seperti kawasan industri.
Yang tak kalah penting, semua proses investasi harus selaras dengan kelestarian alam dan kearifan lokal setempat.
"Jabar terbuka bagi investasi, tetapi tetap berpijak pada kepentingan rakyat,"
tegas Dedi Mulyadi. Poin ini seperti penegas, bahwa pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat harus berjalan beriringan.
Artikel Terkait
Dirjen Haji Panggil Sejumlah Biro, Dua Aduan Jemaah Tuntas Lewat Mediasi
Lagu-Lagu BTS yang Bisa Jadi Suntikan Semangat di Hari-Hari Lelah
Isra Mikraj dan Ironi Ibadah di Tengah Krisis Moral Indonesia
Muara Baru Berbenah: 120 Petugas Dikerahkan untuk Atasi Gunungan Sampah