Menu Gratis untuk Balita dan Ibu Hamil Picu KLB Keracunan di Majene

- Jumat, 16 Januari 2026 | 10:40 WIB
Menu Gratis untuk Balita dan Ibu Hamil Picu KLB Keracunan di Majene

Menu makan bergizi gratis yang seharusnya jadi berkah, malah berujung petaka di Kabupaten Majene. Puluhan orang, mulai dari balita, anak sekolah, hingga ibu hamil, mendadak sakit usai menyantap hidangan itu. Dinas Kesehatan setempat pun langsung bergerak cepat, menetapkan peristiwa ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

Korban ternyata tidak cuma balita. Menurut perkembangan laporan, ibu menyusui dan beberapa guru juga ikut menjadi korban. Mereka semua makan menu MBG yang dibagikan di sekolah dan posyandu pada Selasa lalu.

Kepala Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (Dinkes-P2KB) Sulawesi Barat, Nursyamsi Rahim, membeberkan rinciannya. Menu itu dimasak dan dibagikan dalam dua tahap, menjangkau tujuh desa di Kecamatan Tubo Sendana.

"Untuk sekolah, ada 2.644 ompreng yang didistribusikan. Sementara untuk sasaran balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, jumlahnya 831 ompreng," jelas Nursyamsi, Selasa (13/1/2026).

Gejalanya mulai muncul menjelang malam. Sekitar pukul 20.30 Wita, banyak korban mengeluh sakit kepala, demam, mual, hingga muntah dan diare. Mereka pun berduyun-duyun dilarikan ke Puskesmas Sendana II dan Puskesmas Salutambung.

"Begitu tiba di Puskesmas, pasien langsung kami tangani sesuai keluhan masing-masing," katanya.

Syukurlah, tidak ada korban jiwa atau pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit. Meski begitu, kondisi saat ini masih cukup mencemaskan. Data terakhir menunjukkan 38 orang masih dirawat di Puskesmas Sendana II, 2 orang di Salutambung, 1 orang dinyatakan sembuh, dan 9 lainnya memilih perawatan mandiri di rumah.

Nursyamsi menegaskan, penetapan status KLB ini bukan tanpa alasan. Status itu menandai situasi darurat yang butuh respons super cepat dan terkoordinasi.

"Status KLB untuk dugaan keracunan pangan MBG di wilayah kerja Puskesmas Sendana II sudah resmi ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Majene," ujarnya.

Di sisi lain, upaya investigasi sudah digeber. Tim Gerak Cepat dan surveilans Dinkes Sulbar langsung diterjunkan ke lokasi. Mereka juga sudah mengambil sampel makanan dari dapur penyedia untuk diperiksa di lab.

"Sampelnya macam-macam," terang Nursyamsi. "Ada nasi, ayam suwir, mie kecap, sayur sop, tahu kuning, semangka, bahkan sampel muntahan."

Koordinasi intensif juga dilakukan antara Puskesmas, Dinkes Majene, dan penyedia makanan. Tujuannya jelas: melacak sumber masalah lewat investigasi epidemiologi yang menyeluruh.

"Saat ini penyelidikan masih berjalan," pungkasnya. "Kami berusaha melacak penyebaran kasus dan sumber keracunan, sambil menunggu hasil resmi dari laboratorium BPOM Mamuju."

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar