Kalau bicara prioritas pembangunan rumah susun di Surabaya, Ngagel jadi yang utama. Pemerintah kota menargetkan proyek rusunami di sana bisa mulai dibangun tahun 2026 mendatang. Minatnya sudah tinggi, baik dari investor maupun calon penghuni. Itu yang jadi alasan utamanya.
Iman Krestian, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Surabaya, mengonfirmasi hal ini. Menurutnya, fokus tahun ini adalah menyiapkan lahannya dulu.
"Tahun ini kita clearance area dulu. Ini terutama yang Ngagel, yang kita prioritas. Karena peminatan itu yang investor sudah ready dan peminat juga sudah banyak itu yang di Ngagel," ujar Iman, Jumat lalu.
Lokasinya saat ini masih dipakai oleh PTPN. Proses pengosongan sedang berjalan, mengingat sertifikat lahan itu sebenarnya Hak Penggunaan Lahan (HPL) milik pemkot. Targetnya, area bersih maksimal April ini. Setelah itu, pembongkaran aset diharapkan tuntas di tahun yang sama, sehingga pembangunan fisik bisa segera dimulai.
"Tapi kita pastikan ketersediaan lahan dulu ini karena prosesnya saat ini masih ditempati oleh PTPN," tuturnya lagi.
Rencananya, rusunami di Ngagel akan menempati lahan seluas empat hektare. Kapasitasnya cukup besar, sekitar 1.400 unit yang dibagi dalam dua blok terpisah. Tipe huniannya beragam, ada yang 18, 24, dan 36 meter persegi.
"Satu tim bloknya 700 (unit)," kata Iman Krestian.
Sebenarnya, tak cuma Ngagel. Ada dua lokasi lain yang masuk dalam radar, yaitu di Wonorejo, Rungkut dan Tambak Wedi. Untuk yang di Wonorejo, pengembangannya akan dilakukan bersama BUMD PT Yekape sebagai pemilik, dengan rencana penambahan tower baru.
Meski begitu, Iman mengakui ada tantangan di lokasi tersebut. "Iya, rencana akan ada tower baru. Ini soalnya memang agak struggling ya untuk rusunami ini apalagi yang di Wonorejo ya. Mungkin karena jauh ya," ungkapnya.
Nah, untuk Ngagel dan Tambak Wedi, skemanya berbeda. Keduanya akan dibangun di atas tanah milik pemkot dan dikerjakan bersama investor. Karena tak ada beban lahan, harganya dipastikan lebih terjangkau.
"Kalau yang inisiatif Pemkot sendiri yang lebih terjangkau karena di lahannya Pemkot. Jadi bisa lebih murah itu di Tambak Wedi dan Ngagel ini," imbuhnya.
Seluruh upaya ini sejalan dengan program besar pemerintah pusat, yaitu 3 juta rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Soal waktu pengerjaan, Iman memperkirakan butuh sekitar enam bulan hingga setahun untuk menyelesaikan satu tower rusunami tentu saja jika semua proses berjalan lancar.
Artikel Terkait
KPK Geledah Kantor Pemkab Tulungagung dan Periksa Puluhan Kepala OPD
Apresiasi Konektivitas Digital 2026 Soroti Para Pejuang Teknologi di Pelosok
Investor Relokasi Pabrik Truk Listrik dari China ke Cilegon dengan Nilai Rp10 Triliun
KPK Geledah Empat Lokasi Terkait Kasus Bupati Tulungagung, Sita Rp 95 Juta