Di bawah lengkungan rel kereta, kawasan Kebon Melati, Tanah Abang, tampak sepi. Tapi di situlah Rizal (58) menghabiskan hari Kamis lalu, tangannya sibuk melepas label plastik dari tumpukan botol bekas. Tempat kerjanya tak lebih dari bantaran Sungai Ciliwung, di sebelah rumah gubuknya.
Menurut sejumlah saksi, aktivitas warga di sana memang jarang. Namun bagi Rizal, justru di situlah ia mencari nafkah. Sampah botol plastik yang ia sodor dari sungai itu perlahan ia ubah jadi rupiah. Sungai yang mengalir di bawah rel itu memberinya bahan baku, meski caranya tentu tak mudah.
Ia memilah, membersihkan, lalu menimbunnya dalam karung. Prosesnya sederhana, tapi butuh kesabaran ekstra.
"Satu karung botol plastik dihargai Rp80 ribu," ujarnya.
Itulah sumber penghasilannya. Uang sejumlah itu ia gunakan untuk menyambung hidup dan menafkahi keluarga. Hasilnya mungkin tak seberapa, tapi cukup untuk bertahan.
Di sisi lain, pekerjaan ini sudah ia jalani lama. Setiap hari, ritual yang sama terulang: menyisir sungai, memilah, lalu menjual ke pengepul rongsok. Hidupnya bergantung pada aliran Ciliwung dan sampah yang dibawanya. Sebuah siklus yang keras, namun nyata.
Artikel Terkait
HNW Apresiasi Aturan Baru, Anak di Bawah 18 Tahun Bisa Berangkat Haji
BMKG Prediksi Cuaca Makassar Cerah Berawan, Suhu Capai 35 Derajat Celsius
Sambal Makassar Mendadak Viral di Korea Usai Muncul di Kulkas Idol Girls Generation
Inter Milan Tundukkan Cagliari 3-0, Pertahankan Puncak Klasemen Serie A