Di bawah lengkungan rel kereta, kawasan Kebon Melati, Tanah Abang, tampak sepi. Tapi di situlah Rizal (58) menghabiskan hari Kamis lalu, tangannya sibuk melepas label plastik dari tumpukan botol bekas. Tempat kerjanya tak lebih dari bantaran Sungai Ciliwung, di sebelah rumah gubuknya.
Menurut sejumlah saksi, aktivitas warga di sana memang jarang. Namun bagi Rizal, justru di situlah ia mencari nafkah. Sampah botol plastik yang ia sodor dari sungai itu perlahan ia ubah jadi rupiah. Sungai yang mengalir di bawah rel itu memberinya bahan baku, meski caranya tentu tak mudah.
Ia memilah, membersihkan, lalu menimbunnya dalam karung. Prosesnya sederhana, tapi butuh kesabaran ekstra.
"Satu karung botol plastik dihargai Rp80 ribu," ujarnya.
Itulah sumber penghasilannya. Uang sejumlah itu ia gunakan untuk menyambung hidup dan menafkahi keluarga. Hasilnya mungkin tak seberapa, tapi cukup untuk bertahan.
Di sisi lain, pekerjaan ini sudah ia jalani lama. Setiap hari, ritual yang sama terulang: menyisir sungai, memilah, lalu menjual ke pengepul rongsok. Hidupnya bergantung pada aliran Ciliwung dan sampah yang dibawanya. Sebuah siklus yang keras, namun nyata.
Artikel Terkait
Dua Tewas dalam Kecelakaan Beruntun di Sidoarjo, Berawal dari Mobil Diduga Dikemudikan Sopir Mengantuk
Federasi Iran Klaim Jatah Tiket Piala Dunia 2026 Dicabut Sepihak, Suporter Terancam Gagal Nonton
Puluhan Dapur Makan Bergizi Gratis di Jombang Berhenti Beroperasi Akibat Dana Operasional dari BGN Mandek
Timnas Indonesia Tutup FIFA Matchday Juni 2026 dengan Kemenangan Sempurna, Taklukkan Mozambik 1-0