"Kami belum melihat langsung hewannya, tidak ada juga dokumentasi foto atau video. Namun, dari kesaksian peternak, mereka melihat anjing-anjing tersebut sempat lari saat dikejar warga," ucap Rofiq.
"Terkait kenapa dagingnya tidak dimakan, kami pun masih belum tahu pasti. Hal itu masih kami pelajari," sambungnya.
Deskripsi dari para saksi mata cukup detail. Anjingnya disebut berukuran kecil, lebih kecil dari anjing lokal, dengan moncong panjang. Warnanya merah atau hitam, dan diduga bergerombol.
"Dari laporan, ada yang melihat dua sampai tiga ekor. Bahkan sebelumnya ada laporan pernah terlihat sampai empat ekor," jelas Rofiq.
Pola serangan ini rupanya bukan hal baru. Menurut Rofiq, kejadian serupa pernah terjadi di Kecamatan Cibingbin pada 2020, lalu berulang di Pancalang dan Japara. Mirip, puluhan domba mati dengan luka gigitan di leher.
Di sisi lain, ada kabar baik yang disampaikan. "Dari kesaksian peternak, ketika manusia datang, anjingnya langsung lari. Mudah-mudahan tidak sampai menyerang manusia," katanya, menegaskan belum ada laporan serangan terhadap warga.
Sebagai langkah antisipasi, Diskanak Kuningan mengimbau peternak untuk lebih waspada. Perbaikan kandang, terutama yang dekat hutan, jadi prioritas. Mereka juga menyarankan ronda bergiliran.
Dan satu imbauan penting: "Domba yang digigit jangan dikonsumsi karena berpotensi menularkan penyakit," pungkas Rofiq.
Artikel Terkait
Kemenkes Bekukan Program Spesialis Mata RSUP Hoesin Usai Terungkap Iuran Paksa Rp 15 Juta per Bulan
Purbaya Ancang-ancang Hantam Rokok Ilegal, Aturan Cukai Baru Segera Diteken
Bayi Dijual Rp 25 Juta, Bidan Jadi Otak Sindikat Perdagangan Bayi di Medan
Sindikat Bayi di Medan Terbongkar, TikTok Jadi Pasar Gelap