Di tengah lalu lintas Lapangan Merdeka yang padat, langkah Halimah Batu Bara (80) masih terlihat lincah. Ia menyusuri deretan mobil yang berhenti di lampu merah, dengan sejumlah bungkusan keripik dan tisu di tangan. Usianya sudah senja, tapi semangatnya tak kunjung padam.
Sejak 2017, rutinitas ini dijalaninya. Dari pagi sekitar pukul sembilan, hingga matahari terbenam, ia berjalan kaki. Medannya luas: mulai dari Lapangan Merdeka, ke Mal Podomoro, hingga ke area Masjid Sungai Deli. Semua dilakoni untuk menyambung hidup dan meringankan beban keluarganya.
Kondisi ekonominya memang sulit. Dari setiap bungkus keripik yang laku, ia hanya mendapat seribu rupiah. Tapi, nenek Halimah tak pernah mengeluh. Ia percaya, rezeki akan selalu ada jalannya. Yang penting, ia masih bisa berusaha.
Kehidupan pribadinya tak mudah. Suaminya telah tiada. Saat ini ia menumpang di rumah sewa milik anaknya di Medan Tembung. Kelima anaknya sendiri hidup pas-pasan. Justru karena itulah, Halimah tak mau merepotkan mereka. Ia memilih turun sendiri, berjuang mencari uang untuk ikut menyumbang bayar sewa.
Yang menarik, di tengah kekurangannya, ia justru kerap berbagi. Kadang, keripiknya ia berikan cuma-cuma kepada pengamen atau orang yang tampak membutuhkan. Bagi Halimah, berbagi dengan sesama yang kekurangan justru lebih bermakna.
"Iya, saya ikhlasin," ujarnya.
"Kalau kita kasih orang kaya, itu ibaratnya seperti nuang air se-ember ke laut. Tapi, kalau nyiram air se-ember ke tanaman, kan jadi subur," tutur Halimah suatu sore di persimpangan itu.
Artikel Terkait
Pras Tegaskan RUU Disinformasi Masih Wacana, Fokus pada Tanggung Jawab Platform
Arab Saudi Tegaskan Tolak Jadi Pangkalan Serangan AS ke Iran
AHY Paparkan Tiga Pilar Utama Pemulihan Pascabencana Sumatera
Sholat Rajin, Tapi Korupsi Jalan: Ustadz Hilmi Soroti Kualitas Ibadah Pejabat