Di Tengah Deru Kota Medan, Nenek Halimah Berjuang dan Berbagi dari Setiap Bungkus Keripik

- Kamis, 15 Januari 2026 | 15:00 WIB
Di Tengah Deru Kota Medan, Nenek Halimah Berjuang dan Berbagi dari Setiap Bungkus Keripik

Di tengah lalu lintas Lapangan Merdeka yang padat, langkah Halimah Batu Bara (80) masih terlihat lincah. Ia menyusuri deretan mobil yang berhenti di lampu merah, dengan sejumlah bungkusan keripik dan tisu di tangan. Usianya sudah senja, tapi semangatnya tak kunjung padam.

Sejak 2017, rutinitas ini dijalaninya. Dari pagi sekitar pukul sembilan, hingga matahari terbenam, ia berjalan kaki. Medannya luas: mulai dari Lapangan Merdeka, ke Mal Podomoro, hingga ke area Masjid Sungai Deli. Semua dilakoni untuk menyambung hidup dan meringankan beban keluarganya.

Kondisi ekonominya memang sulit. Dari setiap bungkus keripik yang laku, ia hanya mendapat seribu rupiah. Tapi, nenek Halimah tak pernah mengeluh. Ia percaya, rezeki akan selalu ada jalannya. Yang penting, ia masih bisa berusaha.

Kehidupan pribadinya tak mudah. Suaminya telah tiada. Saat ini ia menumpang di rumah sewa milik anaknya di Medan Tembung. Kelima anaknya sendiri hidup pas-pasan. Justru karena itulah, Halimah tak mau merepotkan mereka. Ia memilih turun sendiri, berjuang mencari uang untuk ikut menyumbang bayar sewa.

Yang menarik, di tengah kekurangannya, ia justru kerap berbagi. Kadang, keripiknya ia berikan cuma-cuma kepada pengamen atau orang yang tampak membutuhkan. Bagi Halimah, berbagi dengan sesama yang kekurangan justru lebih bermakna.

"Iya, saya ikhlasin," ujarnya.

"Kalau kita kasih orang kaya, itu ibaratnya seperti nuang air se-ember ke laut. Tapi, kalau nyiram air se-ember ke tanaman, kan jadi subur," tutur Halimah suatu sore di persimpangan itu.

Keripik dan peyek yang dijajakannya bukan buatannya sendiri. Itu adalah hasil produksi sebuah kelompok ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya. "Ini kan ada kelompok nenek-nenek yang buat. Daripada di rumah saja," ceritanya.

Menurut pengakuannya, selama ini ia tidak mendapat bantuan sosial dari mana pun. Hidup dijalani dengan daya upaya sendiri. Tantangan lain juga kerap datang, misalnya saat petugas Satpol PP mengusirnya dari lokasi berjualan. Halimah menerimanya dengan lapang dada. Itu resiko yang harus dihadapi.

"Ya namanya nenek cari makan gitu. Anak-anak juga susah," katanya, menjelaskan alasannya bertahan.

Jiwa pekerjanya sudah tertanam sejak muda. Riwayat pekerjaannya panjang: pernah menjadi perawat, mengajar di TK, lalu jadi penjahit, sebelum akhirnya berjualan seperti sekarang. Bekerja adalah pilihannya sendiri. Anak-anaknya pun tahu, ibunya lebih suka aktif di luar.

"Mereka tahu kalau nenek kerja. Di rumah, nenek malah enggak pernah kerja apa-apa. Nyuci baju saja dikerjain cucu atau anak," ucap Halimah sambil tersenyum.

Ia memilih untuk tidak mencampuri urusan anak-anaknya. "Hidup mereka juga pas-pasan. Inilah jalan hidup. Namanya kita harus terus usaha," pungkasnya, sebelum kembali menyapa pengendara di mobil berikutnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar