Agar tak melenceng, mereka membuat miniatur patung dari stirofoam terlebih dahulu. Ukiran di es itu beda dengan di kayu. Kalau di kayu salah bisa diperbaiki, di es? Hampir mustahil. Sedikit tersenggol saja, bentuknya bisa berantakan.
Latihan Ekstrem di Dalam Freezer
Sungada mungkin sudah agak terbiasa dengan cuaca ekstrem. Tapi tidak dengan beberapa seniman muda di timnya. Untuk itu, ia punya metode latihan yang unik, bahkan ekstrem: duduk berjam-jam dengan baju berlapis di dalam gudang freezer miliknya!
Tujuannya sederhana: melatih ketahanan fisik. Mereka juga mempersiapkan peralatan musim dingin, pelembab, dan logistik dengan matang. Kulit bisa terkelupas dan gatal-gatal kalau terlalu lama terpapar dingin sambil memahat.
Di hari-H, Sungada membuka kerja sendirian untuk membentuk pola utama. Baru di hari-hari berikutnya, tim bergabung menyempurnakan detail-detail rumit itu. Mereka harus terus menambah lapisan baju dan mengganti sarung tangan yang basah.
Mereka bahkan mengakali waktu makan. Sarapan dari hotel dibawa ke lokasi untuk dinikmati saat makan siang, demi menghemat waktu dan tenaga.
Kini, hasil kerja keras mereka akan bertahan hingga Mei 2026, menjadi bagian dari galeri wisata musim dingin di Sun Island. Sungada dengan bangga bercerita, banyak turis Indonesia yang datang dan terkesan.
Dan di balik semua dinginnya es dan beratnya pahat, ada kebanggaan hangat yang mereka bawa pulang ke tanah air.
Artikel Terkait
Rocky Gerung Soroti Alasan Fufufafa Tak Boleh Hanya Dilupakan
Dr. GT Ng Soroti Keunikan Pemilu: Dari Somalia yang Lambat hingga Fenomena Hasil Sudah Diketahui di Indonesia
Kakeh Kardan Hilang di Hutan Pekuncen, Pencarian Dihadang Tebing dan Hujan
Islah di Lirboyo Buka Jalan, Muktamar ke-35 NU Segera Digulirkan