“Tapi jangan kondisi bencana ini dimanfaatkan untuk memurtadkan umat Islam. Ini harus diwaspadai,” ujarnya lagi.
Ia lalu mengingatkan sebuah peristiwa di Aceh silam. Saat itu, ratusan anak korban bencana nyaris dibawa ke luar daerah. Rencananya, mereka akan ditempatkan di yayasan yatim piatu yang dikelola pemeluk agama lain. Sekitar 300 anak terancam.
Untungnya, setelah dialog dan penanganan dari berbagai pihak setempat, rencana itu berhasil dicegah.
“Kami akhirnya bisa menampung mereka sendiri karena umat Islam juga memiliki yayasan-yayasan sosial yang mampu merawat dan melindungi anak-anak tersebut,” kisah Habib Rizieq.
Ia menambahkan, tantangan di wilayah bencana itu sangat beragam. Butuh kewaspadaan tinggi, juga kerja sama dari semua pihak. Tanpa itu, tanpa pengawasan yang baik, persoalan sosial dan keagamaan di tanah yang sedang terluka bisa jadi makin runyam dan kompleks.
Artikel Terkait
Pras Tegaskan RUU Disinformasi Masih Wacana, Fokus pada Tanggung Jawab Platform
Arab Saudi Tegaskan Tolak Jadi Pangkalan Serangan AS ke Iran
AHY Paparkan Tiga Pilar Utama Pemulihan Pascabencana Sumatera
Sholat Rajin, Tapi Korupsi Jalan: Ustadz Hilmi Soroti Kualitas Ibadah Pejabat