Khamenei vs Trump: Siapa yang Lebih Rentan Terguling dari Takhta Kekuasaan?

- Kamis, 15 Januari 2026 | 05:40 WIB
Khamenei vs Trump: Siapa yang Lebih Rentan Terguling dari Takhta Kekuasaan?

Peran Rakyat: Gelombang Penentu Nasib?

Selanjutnya, mari kita tilik peran rakyat. Dukungan atau penolakan publik bukan cuma angka di survei. Itu adalah gelombang sosial yang bisa mendorong momentum, mempercepat keruntuhan kekuasaan atau setidaknya melemahkannya secara drastis.

Di Iran, gelombang itu sedang terjadi. Awal 2026 ini, protes nasional berskala luas menyapu banyak kota. Pemicu awalnya adalah gejolak ekonomi, inflasi, dan nilai rial yang terjun bebas. Namun, aksi ini dengan cepat berkembang. Dari sekadar tuntutan ekonomi, berubah menjadi seruan politik yang lebih tajam, mengarah langsung ke sistem teokrasi pimpinan Ayatollah Ali Khamenei. Yang menarik, bahkan slogan-slogan yang menginginkan kembalinya monarki terdengar di jalanan. Ini sinyal kuat bahwa ketidakpuasan telah menjalar ke spektrum masyarakat yang luas, bukan cuma kelompok kecil.

Responnya keras. Kekerasan terjadi, dikabarkan ribuan korban tewas, ditambah penangkapan massal oleh aparat. Langkah ekstrem seperti persiapan hukuman mati untuk demonstran pun disebut-sebut. Semua ini menggambarkan betapa besarnya tekanan dari bawah dan betapa getolnya rezim berusaha menahannya.

Meski begitu, satu hal harus dicatat: struktur kekuasaan Iran tidak sepenuhnya bergantung pada dukungan rakyat biasa. Selama beberapa dekade, rezim telah membangun institusi kontrol militer, keamanan, birokrasi agama yang dirancang khusus untuk meredam gejolak. Inilah yang membuat sistem mereka lebih tahan banting.

Lalu bagaimana dengan Amerika Serikat? Gelombang demonstrasi menuntut Trump “jatuh” juga nyata, sebagai cerminan polarisasi dalam negeri yang sangat tajam. Bedanya, politik AS menyediakan kanal legal yang luas untuk menyalurkan protes. Mulai dari litigasi di pengadilan, proses impeachment, sampai pemilihan umum berkala. Orang boleh saja berteriak minta Trump mundur atau dipenjara, namun tekanan itu pada akhirnya mengalir melalui jalur-jalur formal tadi. Artinya, rakyat punya peran langsung dalam mekanisme pergantian kekuasaan, meski prosesnya sering berantakan dan makan waktu lama.

Di sinilah kontrasnya menjadi jelas. Protes di Iran menandai keretakan legitimasi yang serius, namun belum tentu langsung menjatuhkan pemimpin dalam waktu dekat, berkat struktur kekuasaan yang terpusat dan aparat yang represif. Sementara di AS, protes terhadap Trump adalah ekspresi populer yang kuat, namun rakyat di sana punya alat resmi untuk mengganti pemimpin melalui pemilu dan hukum. Jadi, “kejatuhan” Trump lebih mungkin datang melalui proses sistemik yang teratur, bukan semata karena kerusuhan di jalan.

Secara garis besar, rakyat Iran memang menunjukkan ketidakpuasan yang mendalam, yang mulai menggerogoti legitimasi rezim. Tapi rezimnya masih punya cadangan struktur yang dalam untuk menekan dan mengelola krisis, tanpa harus kehilangan kendali secara instan.

Di pihak lain, rakyat AS punya pengaruh yang lebih langsung melalui mekanisme demokrasi. Jika protes benar-benar mewakili suara mayoritas yang kuat, Trump bisa saja kehilangan kekuasaannya lewat pemilu atau keputusan hukum sebuah proses yang terstruktur, walau memakan waktu.

Khusus soal ideologi Syiah, memang ia menjadi perekat kuat bagi basis loyalis rezim. Tapi gelombang protes sekarang ini tidak hanya soal agama. Ia sudah dibumbui oleh ketidakpuasan ekonomi dan sosial yang melintasi sekat-sekat sekte. Artinya, dukungan ideologis saja tak cukup menjamin stabilitas, jika banyak orang merasa sistem itu gagal memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Pada intinya, rakyat bisa mempercepat kejatuhan sebuah rezim yang sudah kehilangan legitimasi, seperti di Iran. Namun, struktur ideologis yang kuat tak otomatis menjadi penjamin kelanggengan. Sebaliknya, di AS, rakyat punya alat sistemik untuk mengganti pemimpin prosesnya mungkin lambat, tapi jelas jalannya, tanpa harus mengandalkan kekerasan jalanan.

Jadi apa hasil akhirnya? Tekanan di Iran terasa lebih akut dan mendalam. Namun, kemungkinan terjadinya perubahan politik secara cepat justru lebih terlihat di Amerika, berkat mekanisme demokrasi yang eksplisit."


Halaman:

Komentar