Donald Trump dan Ali Khamenei:
Siapa yang Akan Lebih Dulu Jatuh?
✍🏻Moeflich H. Hart
Dua sosok ini, Ali Khamenei dan Donald Trump, bermain di lapangan politik yang sama sekali berbeda. Aturan mainnya pun tak ada yang mirip. Lalu, kalau kita bicara real politik, siapa di antara kedua penguasa dari negara besar ini yang lebih mungkin terlempar lebih dulu?
Khamenei berdiri tegak di puncak sebuah rezim teokrasi-sekuriti. Dia bukan presiden biasa. Lebih dari itu, dia adalah porosnya segalanya: ideologi, militer, sampai urusan agama. Oposisi? Tentu ada. Protes kerap menyala. Ekonomi Iran juga memang terengah-engah dihimpit sanksi. Semua itu fakta.
Tapi sistem di sana dirancang khusus untuk menahan guncangan. Ada Garda Revolusi, jaringan ulama yang kokoh, dan kontrol institusional yang ketat. Alhasil, “jatuh”-nya seorang Khamenei kemungkinan besar hanya akan terjadi karena faktor biologis atau melalui proses suksesi yang sudah diatur, bukan lewat pemilu atau impeachment. Rezim ini mungkin tak populer, tapi daya tahannya luar biasa. Mereka sudah ahli bertahan di bawah tekanan yang tak kunjung reda.
Donald Trump? Ceritanya lain sama sekali. Dia hidup dalam demokrasi Amerika yang riuh rendah, di mana setiap empat tahun pintu risiko terbuka lebar. Kekuatannya tidak terletak pada institusi negara, melainkan pada basis massa fanatik dan kemahirannya menguasai panggung media. Dia bisa kalah, menang, bangkit lagi, atau terjungkal semuanya berjalan dalam koridor hukum yang penuh keributan. Masalah hukum yang dihadapinya nyata. Polarisasi sudah mencapai titik ekstrem. Legitimasinya sebagai politisi pun selalu jadi bahan perdebatan sengit.
“Jatuh” bagi Trump sangat mungkin terjadi. Hanya saja, sifatnya cenderung reversibel. Bisa jatuh hari ini, lalu bangkit dan comeback besok. Politik Amerika itu seperti treadmill: melelahkan, tapi jarang yang benar-benar mematikan.
Jadi, siapa yang lebih dekat dengan jurang?
Kalau “jatuh” diartikan sebagai kehilangan kekuasaan secara tiba-tiba dan formal, maka Trump-lah yang lebih dekat. Sistem di negaranya memang memungkinkan hal itu. Sebaliknya, jika “jatuh” berarti runtuhnya sebuah rezim secara keseluruhan, Khamenei masih jauh dari sana. Sistemnya secara efektif mencegah keruntuhan semacam itu.
Di sinilah ironinya: Trump rapuh secara institusional, tapi kuat secara kultural. Sementara Khamenei kuat secara institusional, justru rapuh secara kultural.
Dunia sekarang ini bukan lagi soal siapa yang paling benar. Tapi lebih pada, sistem siapa yang paling tahan terhadap kesalahan. Iran unggul dalam ketahanan model otoriter. Amerika menang dalam mekanisme koreksi demokratis yang kadang, bagi pengamat luar, tampak seperti kekacauan belaka.
Kesimpulan singkatnya begini: Trump lebih mudah jatuh, tapi juga lebih mudah bangkit kembali. Khamenei jauh lebih sulit untuk dijatuhkan, namun sekali itu terjadi, bisa jadi tamatlah riwayatnya. Sejarah, rupanya, memang menyukai paradoks semacam ini.
Artikel Terkait
Prabowo Tegaskan Pentingnya Sosial Humaniora dalam Pertemuan dengan 1.200 Akademisi
Dokter Tifa Klaim Fufufafa adalah Gibran, Ungkap Analisis Otak dalam Buku Kontroversial
Oegroseno Buka Suara: Ijazah Jokowi Diperiksa Seperti Artefak Kuno
Fahri Hamzah Bicara Shadow Power, Ini Tantangan Kedaulatan Finansial di Balik Layar