Angka 36,10. Itulah rata-rata nilai Tes Kompetensi Akademik untuk Matematika di tingkat nasional. Jangan buru-buru menyalahkan siswanya. Angka ini, kalau kita jujur, lebih mirip cermin retak yang memantulkan masalah sistemik dalam pendidikan kita. Persoalan utamanya ada pada cara kita membangun logika dan cara berpikir sistematis.
Selama ini, matematika sering dianggap pelajaran teknis belaka. Pokoknya, yang penting jawaban akhirnya benar. Padahal, esensinya justru ada di proses bernalarnya. Bagaimana anak didik mengurai masalah, menyusun langkah, dan menarik kesimpulan yang masuk akal. Jadi, ketika nilai TKA anjlok, pertanyaannya bukan cuma "anaknya kenapa?", tapi juga "sistem pendidikannya sudah benar-benar melatih cara berpikir atau belum?"
Menurut sejumlah penelitian, kemampuan matematika itu erat banget kaitannya dengan penalaran logis. Sebuah studi di Jurnal Pendidikan Matematika (2021) bahkan menemukan korelasi yang cukup tinggi, sekitar 0,72. Artinya, rendahnya nilai matematika ini bukan cuma soal angka. Ini berpotensi melemahkan nalar generasi muda secara keseluruhan.
Namun begitu, sistem kita masih terjebak pada hal-hal administratif dan target angka semata. Kurikulum boleh berganti nama, istilah pembelajaran bisa diperbarui, tapi realita di dalam kelas? Seringnya stagnan. Siswa masih disuruh menghafal rumus dan pola soal ketimbang diajak memahami konsep. Evaluasinya pun lebih fokus ke skor akhir, bukan menilai proses berpikirnya.
Artikel Terkait
Minang di Sekitar Istana: Dari Relawan Hingga Pembelaan di Tengah Kontroversi
Senator Papua Barat Daya Desak Prabowo: Stop Sawit, Orang Papua Tidak Suka!
Kerobokan Tergenang, Saluran Tak Mampu Hadapi Derasnya Hujan
Babinsa Mimika Jadi Pelindung di Zebra Cross Saat Jam Sekolah