Surplus Fantastis China Tembus USD 1,2 Triliun di Tengah Ancaman Tarif Trump

- Rabu, 14 Januari 2026 | 12:48 WIB
Surplus Fantastis China Tembus USD 1,2 Triliun di Tengah Ancaman Tarif Trump

Rabu lalu (14/1), angka-angka dari bea cukai China mengejutkan banyak pihak. Negeri Tirai Bambu itu mencatat surplus perdagangan hampir USD 1,2 triliun sepanjang 2025. Bukan cuma angka yang fantastis, ini adalah rekor tertinggi dalam sejarah mereka.

Pencapaian ini datang di saat yang cukup pelik. Para produsen di sana sedang bersiap menghadapi tiga tahun ke depan di bawah pemerintahan Donald Trump di AS. Presiden yang baru kembali itu bertekad memperlambat laju manufaktur China, salah satunya dengan mengalihkan pesanan AS ke pasar lain.

Sejak Trump kembali ke Gedung Putih Januari lalu, ketegangan Beijing-Washington memang memanas lagi. Alhasil, banyak perusahaan China mulai mengalihkan fokus. Mereka memburu pasar baru di Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin untuk mengimbangi tingginya bea masuk AS.

Surplus yang memecahkan rekor ini tentu berisikin meresahkan negara lain. Tapi, kekhawatiran juga datang dari dalam. Praktik seperti kelebihan kapasitas produksi dan ketergantungan banyak negara pada produk China turut mempengaruhi supply chain mereka sendiri.

Angka rincinya? Surplus perdagangan China sepanjang 2025 mencapai USD 1.189 triliun. Gila, ya? Angka itu setara dengan PDB negara ekonomi besar macam Arab Saudi. Dan untuk pertama kalinya, mereka berhasil menembus ambang USD 1 triliun itu pada November lalu.

“Momentum pertumbuhan perdagangan global terlihat belum cukup kuat, dan lingkungan eksternal bagi pengembangan perdagangan luar negeri China tetap berat dan kompleks,”

Demikian penjelasan Wakil Menteri Administrasi Bea Cukai China, Wang Jun, dalam konferensi pers Rabu itu.

“Dengan mitra dagang yang semakin terdiversifikasi, kemampuan (China) dalam menahan risiko meningkat secara signifikan,” tambahnya. Ia menegaskan fondasi perdagangan luar negeri China tetap solid.

Nah, performa bulan Desember juga cukup solid. Ekspor tumbuh 6,6 persen secara tahunan, lebih tinggi dari kenaikan 5,9 persen di November. Padahal, survei ekonom Reuters sebelumnya cuma memperkirakan kenaikan 3,0 persen. Impor juga ikut naik 5,7 persen, melampaui ekspektasi yang cuma 0,9 persen.

“Pertumbuhan ekspor yang kuat membantu meredam lemahnya permintaan domestik. Dikombinasikan dengan pasar saham yang bergairah dan hubungan AS–China yang stabil, pemerintah kemungkinan akan mempertahankan sikap kebijakan makro setidaknya hingga kuartal,”

kata Zhiwei Zhang, Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management.

Ekspor Naik, China Bersiap Tambah Pangsa Pasar Global

Data positif ini langsung disambut pasar. Yuan relatif stabil, sementara indeks saham Shanghai dan CSI300 masing-masing melonjak lebih dari 1 persen di pagi hari.

Yang menarik, surplus perdagangan bulanan China melampaui USD 100 miliar sampai tujuh kali sepanjang tahun lalu. Sebagian tentu ditopang pelemahan yuan. Jumlah ini meningkat tajam dibanding 2024 yang cuma sekali. Artinya, langkah-langkah Trump nyaris tak menggerus perdagangan China secara global, meski berhasil menekan pengiriman langsung ke AS.

Faktanya, ekspor ke AS anjlok 20 persen dalam nilai dolar pada 2025. Impor dari sana juga turun 14,6 persen. Tapi, pabrik-pabrik China tak tinggal diam. Mereka membalas dengan ekspansi ke wilayah lain. Ekspor ke Afrika melonjak 25,8 persen, ke blok ASEAN naik 13,4 persen, dan ke Uni Eropa tumbuh 8,4 persen.

Di sisi lain, Trump pada Selasa (13/1) menyatakan ia menilai China bisa membuka pasarnya bagi produk Amerika. Pernyataan ini muncul setelah sehari sebelumnya ia mengancam tarif 25 persen bagi negara yang berdagang dengan Iran. Langkah yang berisiko membuka kembali ketegangan lama dengan Beijing, yang notabene adalah mitra dagang terbesar Teheran.

Kedepannya, para ekonom memperkirakan China akan terus menambah pangsanya di pasar global. Didukung perusahaan-perusahaan yang membangun basis produksi di luar negeri untuk akses tarif lebih rendah ke AS dan Eropa, plus permintaan kuat untuk chip kelas menengah dan produk elektronik lainnya.

Industri otomotif, andalan ambisi global Beijing, mencatat lonjakan ekspor 19,4 persen menjadi 5,79 juta kendaraan tahun lalu. Pengiriman kendaraan listrik murni (EV) bahkan melonjak 48,8 persen. China diprediksi tetap jadi eksportir mobil terbesar dunia untuk tahun ketiga berturut-turut.

Namun begitu, Beijing mulai menunjukkan kesadaran baru. Ekspor industri yang berlebihan perlu dimoderasi demi keberlanjutan. Para pemimpinnya semakin vokal soal ketidakseimbangan ekonomi dan masalah citra yang timbul.

Setelah data surplus satu triliun dolar pada November lalu, Perdana Menteri Li Qiang pekan lalu menyerukan agar China proaktif memperluas impor dan mendorong perkembangan yang lebih seimbang.

Sinyal perubahan juga terlihat. China mencabut skema insentif mirip subsidi berupa rabat pajak ekspor untuk industri surya, isu yang kerap memicu friksi dengan Uni Eropa. Parlemen mereka juga menyetujui revisi Undang-Undang Perdagangan Luar Negeri dengan proses lebih singkat, seolah memberi sinyal kesiapan meninggalkan ketergantungan pada subsidi dan beralih ke praktik perdagangan yang lebih terbuka.

Meski ada gencatan senjata tarif selama setahun yang disepakati Trump dan Xi Jinping akhir Oktober lalu, tarif AS yang masih membebani barang-barang China sebesar 47,5 persen itu tetap tinggi. Jauh di atas kisaran 35 persen yang menurut analis masih memungkinkan perusahaan China ekspor ke AS dengan untung.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar