Belum lagi soal kesenjangan antar daerah. Ini masalah klasik yang belum tuntas. Akses ke guru yang kompeten, metode ajar yang kontekstual, dan sumber belajar yang layak masih timpang sekali. Dalam kondisi seperti ini, nilai TKA yang rendah jelas lebih mencerminkan kegagalan struktural. Bukan semata-mata kesalahan individu siswa.
Ini ironis, sih. Di satu sisi kita punya narasi besar "Indonesia Emas 2045" yang mengandalkan SDM unggul. Tapi di sisi lain, fondasi paling dasarnya yakni kemampuan bernalar untuk mengambil keputusan dan memecahkan masalah justru belum dibangun dengan konsisten sejak dini. Gimana mau bersaing global kalau fondasinya masih goyah?
Angka 36,10 itu harusnya jadi alarm keras. Perbaikannya nggak cukup cuma dengan nambah jam pelajaran, membanjiri siswa dengan latihan soal, atau sekadar ganti bungkus kurikulum. Butuh perubahan pendekatan yang lebih mendasar. Dari pendidikan yang mengutamakan hafalan, beralih ke pendidikan yang menempatkan penalaran dan pemahaman konsep sebagai jantung pembelajaran.
Kalau aspek fundamental ini terus diabaikan, maka nilai rendah seperti ini bukan lagi kejutan. Ia akan jadi konsekuensi yang berulang. Dan selama masalah ini dibiarkan, impian Indonesia Emas 2045 bisa jadi sekadar ambisi besar yang dibangun di atas pondasi nalar yang rapuh.
Artikel Terkait
Bencana Sumatera: 175 Ribu Rumah Rusak, 21 Desa di Aceh Dinyatakan Hilang
10 Tempat Beli Blueprint Arc Raiders 2026: Mana yang Paling Aman dan Nyaman?
Kampus Sibuk Menghitung, Lupa Menimbang Makna
Angkringan Legendaris di Sleman Bertahan dengan Gorengan Rp 500, Meski Hujan Deras Tak Halangi Pelanggan