MAKASSAR Kekalahan demi kekalahan. Bagi PSM Makassar, itu bukan lagi sekadar hasil buruk. Sudah jadi pola. Sebuah tanda bahwa ada yang retak di tubuh klub yang belum lama ini masih berdiri tegak sebagai juara Liga 1.
Rabu malam di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, menjadi bab terbaru dari kemunduran itu. PSM tumbang lagi. Gol tunggal Paulo Gali Freitas mengantarkan Persebaya meraih kemenangan. Kekalahan ini bukan cuma memperpanjang tren negatif, tapi menegaskan krisis yang kian nyata dan mencemaskan.
Coba lihat statistiknya. Sepanjang 23 pertandingan musim ini, PSM sudah menelan 10 kekalahan. Kemenangan? Cuma lima. Angka yang sulit dicerna untuk tim yang dua musim lalu jadi simbol stabilitas dan kecerdasan manajemen. Statistik itu bukan cuma buruk. Ia adalah alarm yang berdering keras-keras.
Namun begitu, masalahnya lebih dalam dari sekadar angka. Yang bikin khawatir adalah hilangnya arah permainan. Tim ini seperti berjalan tanpa identitas. Disiplin khas Juku Eja? Pudar. Pressing yang agresif? Tak terlihat. Efisiensi yang dulu jadi senjata andalan? Menguap begitu saja.
Di lapangan, PSM tampak ragu-ragu. Serangan dibangun dengan tempo lambat, transisi antar lini sering terputus. Di sepertiga akhir lapangan, keputusan para pemain terasa gamang. Bola bergerak tanpa tujuan jelas. Mereka seperti menunggu sebuah keajaiban yang tak kunjung datang.
Ironisnya, justru lawan mereka yang menampilkan energi dan organisasi permainan yang dulu identik dengan PSM. Persebaya tampil dengan intensitas tinggi, pressing berani, dan transisi cepat. Filosofi yang dulu membesarkan PSM, seolah-olah sudah pindah rumah.
Artikel Terkait
Dua Wakil Indonesia Gagal Melangkah ke Final German Open 2026
Tavares Hadapi Bayangan Rekor Buruk Lawan Hodak di Duel Persebaya vs Persib
PSM Makassar Krisis Gol di Liga 1, Ancaman Degradasi Mengintai di Tengah Pembangunan Stadion Untia
Maarten Paes: Kegagalan Kualifikasi Piala Dunia Adalah Batu Pijakan untuk Era Baru Timnas Indonesia