MAKASSAR Kekalahan demi kekalahan. Bagi PSM Makassar, itu bukan lagi sekadar hasil buruk. Sudah jadi pola. Sebuah tanda bahwa ada yang retak di tubuh klub yang belum lama ini masih berdiri tegak sebagai juara Liga 1.
Rabu malam di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, menjadi bab terbaru dari kemunduran itu. PSM tumbang lagi. Gol tunggal Paulo Gali Freitas mengantarkan Persebaya meraih kemenangan. Kekalahan ini bukan cuma memperpanjang tren negatif, tapi menegaskan krisis yang kian nyata dan mencemaskan.
Coba lihat statistiknya. Sepanjang 23 pertandingan musim ini, PSM sudah menelan 10 kekalahan. Kemenangan? Cuma lima. Angka yang sulit dicerna untuk tim yang dua musim lalu jadi simbol stabilitas dan kecerdasan manajemen. Statistik itu bukan cuma buruk. Ia adalah alarm yang berdering keras-keras.
Namun begitu, masalahnya lebih dalam dari sekadar angka. Yang bikin khawatir adalah hilangnya arah permainan. Tim ini seperti berjalan tanpa identitas. Disiplin khas Juku Eja? Pudar. Pressing yang agresif? Tak terlihat. Efisiensi yang dulu jadi senjata andalan? Menguap begitu saja.
Di lapangan, PSM tampak ragu-ragu. Serangan dibangun dengan tempo lambat, transisi antar lini sering terputus. Di sepertiga akhir lapangan, keputusan para pemain terasa gamang. Bola bergerak tanpa tujuan jelas. Mereka seperti menunggu sebuah keajaiban yang tak kunjung datang.
Ironisnya, justru lawan mereka yang menampilkan energi dan organisasi permainan yang dulu identik dengan PSM. Persebaya tampil dengan intensitas tinggi, pressing berani, dan transisi cepat. Filosofi yang dulu membesarkan PSM, seolah-olah sudah pindah rumah.
Semua ini tentu tak bisa lepas dari sosok Tomas Trucha. Pelatih asal Ceko itu datang dengan beban harapan untuk membawa penyegaran taktik. Tapi sampai pekan ke-23, perubahan yang dijanjikan belum juga membuahkan stabilitas. Memang, adaptasi butuh waktu. Tapi kompetisi tidak pernah memberi ruang tanpa batas.
Sepak bola profesional punya satu ukuran utama: hasil. Kalau hasil tak kunjung datang dalam jangka panjang, evaluasi bukan lagi pilihan. Itu keharusan. Tiga kekalahan beruntun belakangan ini hanyalah puncak gunung es dari performa yang sejak awal musim sebenarnya sudah tak pernah meyakinkan.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah bahasa tubuh tim. Kepercayaan diri pemain terlihat anjlok. Koordinasi antarlini rapuh. Bahkan dalam situasi sederhana, fokus mereka mudah buyar. Kalau bukan karena sejumlah penyelamatan penting kiper Reza Arya Pratama di beberapa laga, posisi PSM di klasemen mungkin sudah jauh lebih mengenaskan.
Dan klasemen tak pernah berbohong. PSM kini tertahan di papan bawah, hanya berjarak tipis dari zona merah. Di liga yang kompetitif seperti ini, selisih beberapa poin bisa menguap dalam dua atau tiga pertandingan saja. Ancaman degradasi bukan lagi sekadar teriakan emosional suporter. Ia mulai menjadi kemungkinan yang riil, sebuah perhitungan matematis yang dingin.
Di titik inilah, tanggung jawab terbesar justru berada di pundak manajemen klub. Selama beberapa musim, PSM dipuji karena pengelolaan yang stabil dan visi jangka panjang yang jelas. Tapi musim ini memperlihatkan tanda-tanda kebingungan arah. Pergantian strategi tak diiringi kesiapan struktur tim. Rekrutmen pemain belum sepenuhnya menjawab kebutuhan taktik. Dan yang paling terasa, respons terhadap penurunan performa ini berjalan terlalu lambat.
Artikel Terkait
Simon Grayson Ungkap Alasan Bergabung dengan Timnas Indonesia
Empat Kandidat Juara Liga Champions 2026 Resmi Terbentuk
Acosta Akui Aprilia dan Ducati Ancaman Serius, Tapi KTM Tak Menyerah
AC Milan Siapkan Rencana Perombakan Lini Depan, Dybala Jadi Target Utama