Seribu Taruna KKP Diterjunkan ke Medan Bencana Sumatra

- Rabu, 14 Januari 2026 | 17:06 WIB
Seribu Taruna KKP Diterjunkan ke Medan Bencana Sumatra

Di dataran rendah seperti Aceh Tamiang atau Pidie Jaya, masalah utamanya adalah lumpur. Tebal, membandel, menutupi rumah-rumah warga, sekolah, sampai kantor pemerintahan. Sementara di daerah pegunungan, longsor-lah yang jadi musuh utama, memutus akses jalan dan jembatan.

Nah, soal lumpur ini yang rumit. Penanganannya nggak bisa cuma mengandalkan alat berat. Banyak lokasi terjebak di gang sempit, masuk ke pekarangan rumah. Butuh tenaga manusia banyak yang kuat fisiknya untuk kerja manual, membersihkan dari rumah ke rumah.

“Karena itulah kita perlu tambah pasukan ke sana,” tegas Tito. “TNI dan Polri sudah menambah pasukan, enggak cukup, kita ingin cepat. Kalau ingin cepat yang paling cepat adalah [juga menugaskan] sekolah kedinasan. Kenapa sekolah kedinasan? Karena di bawah kendali pemerintah.”

Sebelum taruna KKP ini, sudah ada kontribusi dari praja IPDN yang lebih dari seribu orang, ditambah sekitar 500 personel dari BPS. Kehadiran 1.142 taruna kelautan dan perikanan ini, di mata Tito, benar-benar suntikan tenaga yang berarti.

Di sisi lain, Tito punya harapan lain. Ia mendorong para taruna untuk memandang tugas ini bukan sekadar kerja bakti. Ini adalah laboratorium lapangan yang nyata. Banyak tambak, nelayan, dan alur sungai yang terdampak sedimentasi dan butuh pendampingan teknis.

“Ini adalah praktik betul-betul langsung riil bukan teori,” jelasnya. Sebuah kesempatan belajar yang langka, di tengah kepedihan bencana.


Halaman:

Komentar