cerita Dede sambil tersenyum. Praktik kepercayaan seperti itu memang langka di zaman sekarang.
Harganya? Sangat bersahabat untuk kantong mahasiswa. Cuma Rp 10 ribu sampai Rp 30 ribu saja sudah dapat paket lengkap. Wajar kalau pelanggan terus berdatangan, silih berganti.
Tanya soal omzet, Dede enggan berdetail-detail. Yang penting, katanya, mereka selalu bersyukur dengan rezeki yang didapat setiap harinya.
Bukti kesetiaan pelanggan bisa langsung dilihat. Seperti Alya dan Rian yang ditemui di sana. Meski sudah bekerja, mereka masih sering mampir. Rian, alumni ITB, mengaku warung ini adalah solusi andalan saat lapar melanda.
"Karena sering ke sini jadi tahu," ujarnya singkat.
Pendapat serupa diungkapkan Alya. "Penyelamat dalam dompet kering gitu kan. Kayak waktu itu kita makan banyak sih, kayak ngambil lauknya, nasinya dikasih sebakul kan cocok banget lah pokoknya,"
katanya sambil tertawa.
Bertahan lebih dari tiga puluh tahun tanpa ekspansi atau buka cabang, pencapaian Kantin Ibu Tatang sebenarnya sederhana. Mereka tak cuma jual makanan rumahan, tapi juga menciptakan rasa hangat sebuah rumah bagi para perantau. Warung kecil ini membuktikan, resep paling ampuh untuk bertahan lama ternyata sederhana: ketulusan dan kehangatan. Itu saja.
Artikel Terkait
KPK Selidiki Aliran Dana Kuota Haji ke Ketua Bidang Ekonomi PBNU
Wamendagri Soroti Lonjakan Sampah, Aglomerasi Jadi Solusi Kolaboratif
Ray Rangkuti Peringatkan Wacana Pilkada Lewat DPRD: Bom Waktu Korupsi dan Sandera Politik
Teman Lama Dibunuh, Jenazah Ditemukan Terikat di TPU Bekasi