Banjir dan Longsor Landa Kudus, Bupati Tetapkan Status Tanggap Darurat

- Selasa, 13 Januari 2026 | 16:12 WIB
Banjir dan Longsor Landa Kudus, Bupati Tetapkan Status Tanggap Darurat

Hujan deras dan angin kencang yang mengguyur Kudus sejak Jumat lalu benar-benar membawa duka. Debit Sungai Gelis, Piji, dan Dawe tak kuasa menahan, akhirnya meluap dan merendam ribuan rumah di beberapa kecamatan. Akibatnya, bencana banjir dan tanah longsor pun tak terhindarkan.

Merespons situasi genting ini, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris akhirnya mengambil langkah tegas. Ia menetapkan status tanggap darurat bencana, berlaku mulai 12 hingga 19 Januari 2025.

“Pemkab Kudus telah menetapkan status tanggap darurat mulai 12 sampai 19 Januari,” ujar Sam’ani dalam keterangannya, Selasa (13/1).

“Langkah ini kami ambil agar penanganan banjir bisa dilakukan lebih cepat, terkoordinasi, dan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, status darurat itu penting untuk memastikan semua upaya bantuan dan evakuasi berjalan tanpa hambatan birokrasi. Di sisi lain, Sam’ani juga memastikan bahwa kebutuhan dasar para pengungsi, mulai dari makanan hingga tempat tinggal sementara, telah diupayakan untuk tercukupi.

“Kami pastikan kebutuhan dasar pengungsi tercukupi. Terima kasih kepada seluruh pihak, TNI, Polri, relawan, tenaga kesehatan, dan masyarakat yang terus bersinergi membantu penanganan banjir ini,” kata dia.

“Kami juga telah menginstruksikan jajaran puskesmas untuk melakukan pemeriksaan kesehatan bagi para pengungsi, khususnya kelompok rentan,” tambah Sam’ani.

Namun begitu, perhatian tak hanya tertuju pada penanganan darurat. Bupati Sam’ani sudah mengarahkan Dinas PUPR untuk segera melakukan asesmen teknis. Tujuannya jelas: mencari solusi jangka panjang agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan.

“Kami mengusulkan pembangunan embung kepada pemerintah pusat sebagai langkah pengendalian banjir ke depan,” paparnya mengenai salah satu rencana strategis tersebut.

Sayangnya, dampak bencana ini terbilang parah. Data terakhir menunjukkan, total warga terdampak mencapai 4.610 kepala keluarga atau setara dengan 14.437 jiwa. Yang lebih memilukan, korban jiwa yang meninggal dunia dilaporkan telah mencapai tiga orang.

Sam’ani pun mengingatkan warganya untuk tetap waspada. Cuaca ekstrem, kata dia, diprediksi masih akan terus terjadi dalam beberapa hari ke depan. Kewaspadaan kolektif menjadi kunci untuk mencegah bertambahnya korban.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar