Kabarnya, Rusia memberikan informasi intelijen kepada Iran. Intelijen itu diduga bisa dipakai untuk menyerang aset militer Amerika Serikat di Timur Tengah mulai dari kapal perang hingga pesawat tempur. Namun begitu, Presiden AS Donald Trump menilai informasi yang dibocorkan Rusia itu tak terlalu berguna.
Laporan ini pertama kali dimuat oleh The Washington Post. Menurut dua pejabat AS yang tahu persoalan ini, Rusia diduga telah membagikan data intelijen yang bisa dimanfaatkan Iran. Targetnya jelas: kekuatan militer AS di kawasan itu.
Para pejabat itu bicara dengan syarat anonim. Mereka memang tidak punya kewenangan untuk membicarakan hal-hal sensitif seperti ini di muka umum.
Di sisi lain, intelijen AS sendiri belum menemukan bukti bahwa Moskow secara langsung mengarahkan Iran soal cara memakai informasi tadi. Artinya, belum jelas apakah ada koordinasi operasional lebih lanjut antara kedua negara.
Kalau dugaan ini benar, ini bisa jadi indikasi pertama keterlibatan tidak langsung Rusia dalam konflik yang memanas belakangan ini. Perang ini sendiri pecah setelah serangan gabungan AS dan Israel ke Iran sekitar seminggu yang lalu.
Hubungan Moskow dan Tehran memang sudah lama akrab. Rusia, yang merupakan mitra dekat Iran, sebelumnya telah mengutuk serangan AS dan Israel. Mereka menyebutnya sebagai aksi agresi bersenjata yang sama sekali tak beralasan.
Menurut sejumlah saksi, situasi di kawasan Teluk semakin mencekam. Informasi intelijen semacam ini, meski dinilai Trump tak banyak membantu, tetap saja menambah ketegangan yang sudah ada.
Artikel Terkait
Bareskrim Kembangkan Kasus Narkoba Ko Erwin ke Pencucian Uang, Istri dan Dua Anak Jadi Tersangka
Tradisi Seba Baduy Serukan Pelestarian Alam dan Pemberantasan Korupsi kepada Bupati Lebak
Mendagri Tito Karnavian: Desentralisasi di Indonesia Bersifat Semi-Otonomi, Bukan Otonomi Penuh
Lapas Sleman Geledah Barang Bawaan Pegawai demi Wujudkan Zero Halinar