Dipecat dari TPUA justru membahagiakan. Bukan soal pesangon, tentu saja. Tapi lebih karena ini melepaskan kami dari sebuah “kenistaan”. Bayangkan, seperti Musa dan Harun yang diutus pada Fir’aun untuk membebaskan Bani Israil, bukan untuk kepentingan pribadi apalagi sekadar urusan “restorative justice”. Pertemuan yang terkesan merengek-rengek itu terasa menistakan ayat.
Menurut saya, Bang Eggi Sudjana sebaiknya fokus pada penyembuhan dan mendekatkan diri pada Allah. Lepaskan saja urusan dunia yang tak pernah memuaskan ini. Dan waspadalah terhadap akhir yang buruk. Sowan ke Jokowi kemarin sudah menjadi fitnah besar. Kini, terbayang sulitnya ia memberikan klarifikasi lanjutan selain dengan cara “tembak sana, tembak sini” atau “pecat sana, pecat sini”.
Kasihan. Eggi benar-benar di tepi jurang. Seorang ulama bahkan berkomentar santai, “Nanti jatuh ke jurang, kelelep dalam tumpukan sampah.”
Nasihat untuk Bang Eggi: kembalilah ke jalan yang lurus. Takutlah pada Allah, yang berkuasa membolak-balikkan hati. Bukankah kita selalu memanjatkan doa ini?
Salam.
") Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 13 Januari 2026
Artikel Terkait
Al Hilal Tumbangkan Al Shabab 5-3 dalam Laga Penuh Gol
Kemlu Tegaskan Pasukan TNI ke Gaza Bersifat Non-Tempur dan Bisa Dihentikan Kapan Saja
Jadwal Imsak dan Salat Hari Ini di Pangkal Pinang, 28 Februari 2026
Jadwal Imsak dan Salat untuk Makassar, 10 Ramadan 1447 H