Setiap tanggal 11 Januari, Indonesia memperingati Hari Tuli Nasional. Tanggal ini bukan dipilih sembarangan. Ia bertepatan dengan hari lahir Serikat Kaum Tuli-Bisu Indonesia (SERKATUBI), organisasi Tuli pertama di tanah air yang berdiri pada 11 Januari 1960. Jadi, ada sejarah panjang di balik penetapan hari spesial ini.
Penetapannya sendiri baru dilakukan belakangan, tepatnya dalam Rakernas Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Nasional pada September 2017. Intinya, tanggal 11 Januari diharapkan bisa menjadi pengingat akan perjuangan komunitas Tuli yang masih berlangsung hingga sekarang. Lalu, bagaimana sebenarnya orang Tuli menjalani dan memandang kehidupan sehari-hari?
Phieter Angdika: Guru yang Gigih Memperjuangkan Identitas
Nama Abdurrahman Phieter Angdika mungkin sudah tak asing bagi yang mengikuti isu disabilitas. Pria 36 tahun ini adalah dosen Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) di Universitas Indonesia. Terlahir Tuli, perjalanan hidupnya membawanya menjadi salah satu suara penting bagi komunitasnya.
Phieter punya pengalaman pribadi dengan Alat Bantu Dengar (ABD). Dulu ia memakainya, tapi sekarang sudah tidak. Baginya, ABD bukanlah solusi tunggal atau jaminan kesuksesan bagi teman-teman Tuli. Sayangnya, anggapan itu masih kuat beredar di masyarakat.
"Sebaiknya, anak Tuli dikenalkan bahasa isyarat seperti BISINDO sejak dini karena akses bahasa dalam bentuk visual sangat penting," ujar Phieter.
Ia melanjutkan, "Tapi Tuli itu beragam. Ada yang pakai isyarat, verbal, punya sisa dengar, atau baru menjadi Tuli belakangan."
Menurutnya, setiap individu Tuli unik. Jadi pendekatannya harus disesuaikan kebutuhan, dengan memastikan akses bahasa terutama bahasa isyarat diberikan sejak awal. Phieter sendiri pernah mencoba belajar bicara, tapi merasa itu bukan jalan yang tepat. Gerak bibir orang yang berbicara, katanya, sering membingungkan karena banyak kata yang tampak mirip.
Ada satu hal yang ia tekankan: penggunaan istilah. Phieter lebih memilih dipanggil "Tuli" dengan huruf 'T' kapital, bukan "tuna rungu" yang dianggap lebih sopan oleh banyak orang.
"Sebetulnya mereka (orang Dengar) menganggap [istilah] Tuli itu tidak sopan itu salah fatal. Sebenarnya Tuli itu berdasarkan identitas," tegasnya.
Huruf kapital itu penting, sama seperti kita menulis Jawa atau Bugis. Mengubahnya menjadi "Tuna Rungu" baginya sama dengan mengubah identitas. Begitu pula dengan kata "normal" untuk merujuk orang non-disabilitas. Kata itu terasa superior, seolah menyiratkan bahwa Tuli itu "tidak normal".
"Sebetulnya, normal artinya punya akal budi, kami Tuli tetap normal juga," ungkap Phieter.
Ia juga meluruskan stigma umum. Tuli itu bukan bisu. Fokusnya ada pada kemampuan mendengar dan berkomunikasi dengan bahasa isyarat, bukan pada bisa tidaknya bersuara. Phieter dan istrinya yang juga Tuli, misalnya, dikaruniai anak yang bisa mendengar. Ini membuktikan, Tuli tidak selalu diturunkan.
Di ranah komunikasi, Phieter aktif memperjuangkan BISINDO. Ia membandingkannya dengan SIBI yang dianggapnya lebih mirip sistem buatan orang Dengar, bukan bahasa yang hidup dan natural seperti BISINDO yang tumbuh dari komunitas.
Kini, selain mengajar yang muridnya kebanyakan justru orang Dengar Phieter menjalankan PT Pusat Tuli Indonesia. Perusahaannya memiliki beberapa brand seperti Ruang Isyarat dan Beriuh Podcast, terinspirasi dari model komunitas Tuli di Amerika.
Artikel Terkait
Di Balik Kunjungan Menhan ke Masjid Soeharto: Mengulur Benang Merah Solidaritas Indonesia-Bosnia
Bus Listrik Transjakarta Tabrak Tiang di Pasar Minggu, Satu Penumpang Terluka
SBY Tegaskan Demokrat Harus Jadi Bagian Solusi di Era Prabowo
SBY Peringatkan Bahaya Perpecahan di Puncak Natal Demokrat