"Saya tidak ke mana-mana. Tapi kok semakin lama semakin besar," kenangnya. "Saya lari ke Supiturang, debunya semakin besar dan panas."
Untungnya, rumahnya tidak rusak parah. Hanya bagian depan yang terdampak. "Alhamdulillah. Sekarang masih November, jadi tidak menyangka akan erupsi lagi," ucap Gimah.
Di sisi lain, sementara ucapan Gimah ramai dibicarakan, upaya mitigasi di lapangan terus berjalan. TNI lewat Korem 083/Baladhika Jaya tak berhenti bekerja. Mereka fokus merevitalisasi aliran lahar dan membangun tanggul pertahanan.
Peltu Suwandi, personel Penerangan Korem, menjelaskan pekerjaan yang sedang dikebut. "Alat-alat berat di belakang ini sedang membuat tanggul," katanya.
Harapannya jelas: membentengi warga dari ancaman lahar susulan. "Agar material tidak meluber ke pemukiman di Desa Supiturang," tegas Suwandi.
Jadi, di balik viralnya seorang Gimah dengan permintaan yang mustahil, ada dua cerita yang berjalan beriringan. Satu tentang kejenakaan manusia yang mencoba menghadapi ketakutan dengan humor. Satunya lagi tentang kerja nyata dan keringat, berusaha mengalahkan alam dengan persiapan.
Artikel Terkait
Jadwal Imsak dan Salat untuk Warga Medan Besok, 27 Februari 2026
Fiorentina Lolos Dramatis Usai Dihajar Hattrick Mazurek di Liga Konferensi Eropa
Gubernur Kaltim Jelaskan Mobil Dinas Rp8,5 Miliar Ditempatkan di Jakarta
Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Semarang Hari Ini, 27 Februari 2026