Juharti (46) berdiri di depan puing-puing pabrik kerupuknya. Pandangannya kosong. Hanya semalam, banjir bandang yang menerjang Desa Bulumanis Kidul, Pati, Jumat malam lalu, telah mengubah semua yang ia miliki menjadi tumpukan lumpur dan kayu patah. Bukan cuma bangunan yang roboh. Rasanya seluruh hidupnya ikut hanyut terbawa arus kotor itu.
Matanya masih merah. Semalaman ia menangis. Yang tersisa sekarang cuma alat-alat produksi yang rusak dan ribuan keping kerupuk siap kirim yang sudah lembek, berubah jadi bubur tak berbentuk. Di telinganya, suara gemuruh air yang menghantam tembok belakang rumahnya masih terus bergema. Rumahnya persis di samping tanggul, jadi yang pertama kena.
“Datangnya tiba-tiba, sekitar jam sembilan malam,” ujarnya, suaranya parau menahan tangis.
“Suaranya menggelegar, langsung menghantam. Kami lari menyelamatkan diri. Sampai sekarang saya belum tidur, takut banjir susulan datang lagi.”
Di tengah kekacauan itu, pikirannya melayang ke hal-hal yang paling memberatkan. Cicilan bank yang masih numpuk. Nasib tujuh pekerjanya yang menggantungkan nafkah padanya. Mimpi sederhana untuk keluarga, tiba-tiba terasa jauh sekali. Ratusan juta rupiah yang dikumpulkannya bertahun-tahun, lenyap dalam hitungan menit.
“Semua habis. Perabotan, peralatan produksi, kerupuk yang siap dikirim… hilang semua. Kira-kira rugi seratusan juta,” ungkap Juharti.
Luka Lama yang Kembali Terbuka
Yang paling menyakitkan, ini bukan kali pertama. Perempuan yang merintis usaha kerupuk sejak 2014 ini baru tiga tahun lalu dilanda musibah serupa. Waktu itu, ia bersusah payah menguras lumpur dan mengganti mesin-mesin yang rusak. Luka itu belum benar-benar sembuh, kini sudah dibuka kembali dengan cara yang lebih pahit.
“Traumanya masih ada. Dulu lebih parah, kerugian sampai Rp 200 juta. Saya bangkit dengan utang bank Rp 115 juta,” bebernya.
Nestapanya makin menjadi. Sehari sebelum banjir menerjang, ia baru saja mendatangkan lima ton tepung tapioka dari Lampung. Modal segitu, sekitar Rp 40 juta, teronggok di gudang yang kini penuh lumpur. “Tepung dari Lampung kualitasnya bagus. Satu sak harganya Rp 400 ribu,” katanya.
Artikel Terkait
Teman Lama Dibunuh, Jenazah Ditemukan Terikat di TPU Bekasi
KPK Geledah Dua Direktorat Pajak, Uang Suap dan Bukti Elektronik Diamankan
Duel Sengit di St. James Park: Newcastle Hadang Langkah Manchester City di Semifinal Carabao Cup
Empat Terdakwa, Termasuk Kepala Desa, Divonis 3,5 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi Pagar Laut Tangerang