Setelah ini, Juharti mengaku bingung. Ia tak tahu harus mulai dari mana lagi. Pasrah, dan berharap ada bantuan dari pemerintah untuk membantunya berdiri. Setidaknya untuk memperbaiki alat produksi yang butuh dana sekitar Rp 5 juta.
“Nggak tahu. Sudah dua kali kena musibah seperti ini. Saya benar-benar tidak tahu cara bangkitnya bagaimana,” ucapnya lirih, hampir seperti bisikan.
Ribuan Warga Terdampak
Kisah Juharti hanyalah satu dari ribuan. Bencana yang melanda Kabupaten Pati malam itu skalanya cukup luas. Menurut Martinus Budi Prasetya, Kepala Pelaksana Harian BPBD Pati, banjir dan tanah longsor terjadi di setidaknya sepuluh kecamatan.
Hujan lebat yang mengguyur kawasan Pegunungan Muria dan sekitarnya sejak Jumat sore memicu bencana beruntun. Banjir melanda desa-desa di Kecamatan Dukuhseti, Pati Kota, Tayu, Margoyoso, Wedarijaksa, Margorejo, dan Gembong.
Sementara itu, tanah longsor dilaporkan terjadi di tiga titik: Kecamatan Gunungwungkal, Gembong (tepatnya di Desa Klakahlasihan), serta Tlogowungu (Desa Gunungsari).
“Kejadiannya Jumat malam,” jelas Martinus saat dikonfirmasi, Sabtu (10/1/2026).
“Hujan deras yang menjadi pemicunya sudah turun sejak sore hari.”
Akibatnya, ribuan warga terdampak. Banyak yang terpaksa meninggalkan rumah mereka, mengungsi ke tempat yang lebih aman, sambil menunggu air surut dan bantuan tiba.
Artikel Terkait
Teman Lama Dibunuh, Jenazah Ditemukan Terikat di TPU Bekasi
KPK Geledah Dua Direktorat Pajak, Uang Suap dan Bukti Elektronik Diamankan
Duel Sengit di St. James Park: Newcastle Hadang Langkah Manchester City di Semifinal Carabao Cup
Empat Terdakwa, Termasuk Kepala Desa, Divonis 3,5 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi Pagar Laut Tangerang