Bukti Ilmiah di Balik Ayat Al-Qur’an: Ubun-Ubun dan Sifat Pendusta Manusia

- Senin, 12 Januari 2026 | 10:50 WIB
Bukti Ilmiah di Balik Ayat Al-Qur’an: Ubun-Ubun dan Sifat Pendusta Manusia

Manusia Akan Ditandai Pada Akhir Hayatnya

Sutoyo Abadi

Malam Jumat, tepatnya Kamis 8 Januari lalu, sekelompok teman menggelar diskusi. Acara yang dihelat Kajian Politik Merah Putih itu bernuansa pengajian, tapi obrolannya cukup dalam. Dari situ, muncul satu poin menarik yang patut direnungkan.

Sebagai orang yang mengaku beragama, kadang kita perlu jeda sejenak. Ambil napas, lalu mendekatkan diri pada ayat-ayat Allah. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 9, misalnya, dijelaskan tentang orang-orang munafik. Mereka mengira bisa menipu Allah dan orang beriman. Padahal, tanpa disadari, mereka sebenarnya cuma menipu diri sendiri.

Ayat itu ternyata punya sambungan. Di Surah Al-‘Alaq, Allah berfirman:

“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.” (QS. Al-‘Alaq: 15-16)

Kata kuncinya ada di sini: nasiyah. Itu istilah Arab untuk ubun-ubun, bagian depan kepala kita.

Memang, Al-Qur’an bukan buku pedoman kedokteran. Tapi isinya seringkali memberi petunjuk yang bikin kita ternganga. Fakta ilmiah masa kini ternyata banyak yang selaras, salah satunya soal fisiologi kebohongan. Dan area utamanya? Yaitu otak bagian depan, persis di balik dahi atau ubun-ubun tadi.

Yang menarik, Al-Qur’an secara spesifik menyebut nasiyah sebagai area yang “mendustakan lagi durhaka”. Bagi banyak ulama dan ilmuwan, ini bukan kebetulan. Ini mukjizat. Bayangkan, pengetahuan detail tentang fungsi spesifik otak seperti itu mustahil diketahui manusia 1.400 tahun silam.

Nah, dari kacamata sains modern, penelitian neurosains sudah mengonfirmasi hal serupa. Korteks prefrontal yang letaknya di belakang dahi memegang peran krusial. Fungsinya macam-macam: merencanakan sesuatu, mengambil keputusan, dan yang relevan dengan pembahasan kita: menahan kebohongan.

Saat seseorang berbohong, area ini justru aktif banget. Di sinilah juga pusat motivasi dan agresi bersemayam.

Lalu, apa dampaknya kalau kebohongan jadi kebiasaan?

Pertama, bohong terus-terusan memicu stres kronis. Lama-lama, keseimbangan hormon tubuh bakal kacau dan sistem imun melemah.

Gangguan mental pun mengintai. Mulai dari kecemasan, rasa bersalah, sampai depresi bisa menghampiri.

Tekanan jiwa juga tak terhindarkan. Soalnya, tindakan bohong bertentangan dengan hati nurani. Beban psikologisnya berat karena si pembohong harus terus mengingat kebohongan yang dia buat.

Hidupnya jadi gelisah, niatnya jadi tidak murni. Dampaknya, kesejahteraan spiritual dan mentalnya terganggu.

Ujung-ujungnya, yang terbangun cuma ilusi rapuh dan ketidakstabilan di dalam diri.

Nah, korelasi antara temuan medis dan ayat Al-Qur’an ini bukan kebetulan. Sebagai firman dari Pencipta manusia, kebenarannya mutlak.

Di sisi lain, manusia tidak punya hak untuk memvonis sesamanya. Itu hak mutlak Sang Khalik. Kehidupan kita sepenuhnya bergantung pada kehendak-Nya. Apakah kita dapat petunjuk atau tidak, itu akan terlihat nanti. Tandanya akan jelas pada akhir hayat.

Berbeda dengan urusan dunia. Hukuman atas kebohongan yang merusak negara, misalnya, itu ranah manusia. Itu hak negara berdasarkan hukum yang berlaku.

12 Januari 2026

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar