Negara bisa saja membangun benteng yang menjulang tinggi, kokoh bagaikan baja. Tapi, sejarah punya cerita sendiri. Ada satu pelajaran pahit yang terus berulang: benteng yang paling hebat sekalipun, biasanya runtuh bukan oleh serangan dari luar. Ia ambruk dari dalam.
Dan yang meruntuhkannya bukan meriam atau peluru. Melainkan manusia-manusia yang seharusnya menjaganya.
Nah, manusia itu sendiri bukanlah entitas yang tangguh. Di hadapan godaan seks, uang, kekuasaan ia seringkali rapuh. Di titik inilah, semua pertahanan fisik yang megah itu tiba-tiba kehilangan arti. Ia jadi sekadar panggung sandiwara.
Ambil contoh narasi yang kini berembus dari Caracas. Seorang jenderal, yang katanya dekat dengan lingkar kekuasaan, diduga menjual negara demi segulung dolar. Kisahnya terdengar klise, bukan? Polanya sudah sangat tua. Pengkhianatan hampir tak pernah datang dari musuh yang terang-terangan. Ia justru muncul dari sahabat yang paling dipercaya.
Machiavelli sudah mengingatkan hal ini berabad-abad lalu dalam Il Principe. Ancaman paling mematikan bagi seorang penguasa, tulisnya, bukanlah pasukan asing. Tapi mereka yang berada "cukup dekat untuk menusuk tanpa dicurigai."
Musuh bisa dihadang dengan tembok. Bisa dihadapi dengan senjata. Tapi pengkhianatan? Ia tak terdeteksi radar. Ia bisu dan tak terduga.
Cerita ini mengingatkan saya pada tragedi Thomas Sankara dan Blaise Compaoré. Dua sahabat, sama-sama revolusioner, satu ideologi. Tapi ketika kekuasaan tumbuh tanpa pondasi nilai yang kokoh, persahabatan pun berubah jadi celah yang mematikan. Hannah Arendt pernah mencatat, kekuasaan yang kehilangan moral biasanya akan mencari sandaran baru: uang, ketakutan, atau kekerasan.
Di sinilah sebenarnya ideologi menemukan perannya yang paling konkret. Ia bukan cuma teks di konstitusi atau jargon dalam pidato. Ideologi adalah mekanisme pengaman internal sesuatu yang menahan seseorang untuk tidak menjual dirinya sendiri. Tanpa ini, negara cuma mengandalkan loyalitas personal. Dan loyalitas macam itu, sayangnya, selalu punya harga.
Jadi, benteng sejati itu apa? Bukan tembok batu, melainkan nilai yang meresap ke dalam sanubari. Penghormatan pada hal-hal yang transenden, keadilan yang beradab bukan yang transaksional. Rasa kebersamaan yang lebih kuat dari kepentingan pribadi, semangat gotong royong, dan orientasi pada keadilan sosial.
Nilai-nilai inilah yang membentuk apa yang dulu disebut Antonio Gramsci sebagai hegemoni moral. Sebuah kekuasaan yang tak lagi bergantung pada paksaan, tapi pada kesadaran kolektif. Mungkin ini sebabnya negara-negara macam Iran, China, atau India dengan segala kompleksitas dan kontradiksinya punya pemahaman yang mirip: ketahanan negara tidak cuma dibangun dari senjata. Tapi dari disiplin ideologis.
Coba lihat. Iran bertahan bukan karena teknologi militernya yang kebal. Tapi karena di sana, kesetiaan pada ideologi lebih dihargai daripada keuntungan pribadi. China menjaga stabilitasnya bukan cuma dengan aparat keamanan, tapi juga meski tak sempurna dengan kesatuan visi di kalangan elitnya. India, sebagai republik yang super majemuk, tetap utuh karena narasi kebangsaannya berhasil memberi rasa memiliki, meski terus diuji.
Intinya, semua berangkat dari kesadaran yang sama: pengkhianatan tak bisa dicegah hanya dengan mempercayai orang. Ia harus dicegah dengan sistem nilai yang membuat tindakan khianat menjadi aib besar, bukan peluang emas.
Pada akhirnya, kisah-kisah pengkhianatan entah yang sudah terbukti atau masih sebatas tuduhan mengajarkan pelajaran universal. Negara tidak runtuh karena kurang senjata. Ia runtuh karena kehilangan manusia-manusia yang tak bisa dibeli. Dan manusia seperti itu hanya lahir dari ideologi yang hidup: yang diteladankan oleh elite, ditegakkan tanpa pandang bulu, dan dirasakan keadilannya oleh rakyat kecil.
Tanpa itu? Setiap benteng, sekuat apapun, hanya menunggu saatnya seseorang dari dalam membuka pintu gerbangnya.
(Erizeli Jely Bandaro)
Artikel Terkait
Suwardi Tahir Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua PWI Sulsel Periode 2026–2031
BMKG: Sebagian Besar Wilayah Sulsel Cerah Berawan, Sejumlah Daerah Berpotensi Hujan Ringan-Sedang
Ana/Trias Taklukan Wakil India, Lolos ke 16 Besar Indonesia Open 2026
Ribuan Ikan Mati Mendadak di Saluran Irigasi Karawang, Warga Berbondong Ambil Ikan Hanyut