Rudal dan drone menghujani sejumlah kota di Ukraina sejak Senin malam hingga Selasa dini hari waktu setempat, menewaskan sedikitnya 11 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya dalam salah satu gelombang serangan terbesar yang dilancarkan Rusia dalam beberapa waktu terakhir.
Militer Rusia meluncurkan 73 rudal dan 656 drone ke berbagai sasaran di Ukraina mulai pukul 18.00 waktu setempat. Angkatan Udara Ukraina menyatakan berhasil menetralkan 40 rudal dan 602 drone, namun sisanya mencapai target dan menimbulkan kerusakan parah di sejumlah wilayah.
Kyiv menjadi sasaran utama dalam serangan ini. Namun, menurut pernyataan Angkatan Udara Ukraina melalui Telegram, drone juga menyerang 38 lokasi lain yang tersebar di seluruh negeri. Tiga kota besar Kyiv, Dnipro, dan Kharkiv menjadi wilayah yang paling terdampak.
Kementerian Pertahanan Rusia, dalam pernyataan resminya pada Selasa, menyebut serangan massal itu sebagai respons atas apa yang mereka istilahkan sebagai “tindakan terorisme” di dalam wilayah Rusia. Mereka mengklaim telah menyerang berbagai objek militer Ukraina menggunakan senjata presisi tinggi jarak jauh yang diluncurkan dari udara, darat, maupun laut.
Di Dnipro, wilayah timur Ukraina, sedikitnya tujuh orang tewas dan 36 lainnya luka-luka. Petugas layanan darurat setempat melaporkan bahwa para korban luka telah dirawat di rumah sakit dan berada dalam kondisi sedang. Foto-foto yang dibagikan menunjukkan bangunan tempat tinggal yang hancur parah serta kendaraan yang hangus terbakar.
Sementara itu, di Kyiv, serangan merenggut nyawa empat orang dan melukai 63 lainnya, termasuk tiga anak-anak, menurut data Layanan Darurat Negara Ukraina. Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko mengungkapkan bahwa sebuah gedung apartemen berlantai 24 di ibu kota diduga menjadi sasaran rudal. Bangunan tersebut runtuh dan sejumlah orang diperkirakan masih tertimbun di bawah puing-puing.
“Di distrik Obolon, kendaraan-kendaraan terbakar setelah tertimpa serpihan rudal yang jatuh,” kata Klitschko. “Ada pula kebakaran di dua lokasi di area terbuka, termasuk satu di dekat taman kanak-kanak.”
Serpihan rudal yang jatuh juga memicu kebakaran di sejumlah gedung lain di sekitar lokasi kejadian. Ribuan warga yang mencari perlindungan “membanjiri” jaringan kereta bawah tanah Kyiv pada Selasa dini hari, menurut keterangan saksi mata. Sebagian dari mereka membawa hewan peliharaan, barang-barang pribadi, dan kasur, sementara suara sirene sistem pertahanan udara terus menggema di atas permukaan tanah. Banyak warga juga mengalami pemadaman listrik dan gangguan pasokan air.
Di Kharkiv, sedikitnya 14 orang dilaporkan luka-luka. Sejumlah rumah, garasi, dan mobil mengalami kerusakan. Sebuah bangunan hunian dua lantai dan beberapa bagian dari apartemen berlantai empat juga rusak, dengan beberapa orang dilaporkan terjebak di bawah reruntuhan. Angkatan Udara Ukraina menyatakan bahwa Moskow menggunakan rudal balistik dan rudal jelajah dalam serangan tersebut.
Jumlah korban jiwa diperkirakan masih akan bertambah. Tim penyelamat masih bekerja di sejumlah lokasi untuk mencari korban yang mungkin masih tertimbun reruntuhan.
Beberapa jam sebelum serangan terjadi, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy telah berulang kali mengeluarkan peringatan mengenai kemungkinan serangan masif Rusia. Dalam pidato video pada Senin malam, ia mengimbau warga untuk tetap waspada dan memperhatikan sirene serangan udara dengan saksama.
“Peringatan intelijen mengenai serangan Rusia masih berlaku. Serangan masif sangat mungkin terjadi, mereka telah mempersiapkannya,” ujar Zelenskyy.
Pekan lalu, Rusia telah memperingatkan bahwa pihaknya berencana melancarkan “serangan sistematis” terhadap objek militer Ukraina dan pusat pemerintahan di Kyiv, serta mendesak warga asing untuk meninggalkan ibu kota tersebut. Peringatan itu merupakan respons atas serangan drone ke sebuah asrama di wilayah Luhansk yang dikuasai Rusia, yang menewaskan 21 orang. Ukraina membantah telah melakukan serangan tersebut.
Perang Rusia di Ukraina kini telah memasuki tahun keempat. Moskow semakin gencar menargetkan pasokan listrik Ukraina, sementara Kyiv menargetkan fasilitas minyak milik Rusia. Berbagai upaya mediasi untuk mengakhiri konflik ini telah gagal, terlebih dengan perhatian dunia yang teralihkan akibat perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Artikel Terkait
Polisi Tunggu Hasil Puslabfor untuk Ungkap Penyebab Kebakaran Pasar Jiung Kemayoran
Pemprov Lampung Luncurkan Program Keringanan Pajak Kendaraan hingga Agustus 2026
Mendikti: Kekerasan Seksual di Kampus Bergeser ke Ranah Digital, 787 Aduan Masuk Sepanjang 2026
JPU Sorot Inkonsistensi Klaim Nadiem soal Keuntungan Negara dalam Kasus Korupsi Chromebook