Menjaga Marwah Bangsa: Ketika Keluhuran Batin Menjadi Fondasi Negara

- Senin, 12 Januari 2026 | 05:50 WIB
Menjaga Marwah Bangsa: Ketika Keluhuran Batin Menjadi Fondasi Negara

Dalam keseharian, keluhuran bangsa tercermin dari hal-hal yang sederhana. Kejujuran saat bekerja. Disiplin dalam menjalankan tugas. Kepedulian pada sesama. Dan kesediaan untuk bertanggung jawab atas pilihan sendiri. Martabat bangsa bukan cuma urusan para elite. Ia adalah akumulasi dari sikap seluruh warganya. Dari pasar tradisional sampai kantor-kantor megah, dari desa terpencil sampai kota metropolitan, nilai-nilai itu diuji setiap harinya.

Bangsa yang luhur dan bermartabat paham, kemerdekaan sejati bukan cuma bebas dari penjajahan fisik. Tapi juga bebas dari penjajahan mental: rasa takut, keserakahan, dan ketidakpedulian. Kemerdekaan batin inilah yang memungkinkan sebuah bangsa berdiri tegak dengan percaya diri, tanpa perlu merendahkan bangsa lain.

Pada akhirnya, merawat keluhuran dan martabat bangsa adalah pekerjaan yang tak pernah benar-benar selesai. Ia harus dipupuk dari generasi ke generasi, dijaga baik dalam suka maupun duka, dan dipertahankan bahkan ketika godaan untuk mengkhianatinya terasa begitu besar. Sebab, ketika marwah bangsa dijaga, masa depan punya pijakan yang kuat. Tapi kalau marwah itu diabaikan, sejarah akan mencatatnya sebagai peringatan yang pahit untuk dibaca.

Bangsa yang luhur dan bermartabat adalah bangsa yang setia pada nilai, teguh pada prinsip, dan manusiawi dalam setiap tindakannya. Mungkin tidak selalu sempurna, tapi selalu berusaha untuk berada di jalan yang benar. Dan dalam usaha itulah letak kemuliaannya. Dalam kesetiaan itulah martabatnya menjadi abadi.

Ikrar Bangsa yang Luhur dan Bermartabat

Kami, bangsa yang berakal sehat dan bermartabat,
berikrar untuk menjaga marwah kebangsaan
dengan kejujuran pikiran, keteguhan sikap,
dan keberanian moral.

Kami menolak kebodohan yang dipelihara,
menolak kepengecutan yang dibungkus kesantunan palsu,
dan menolak kepatuhan buta
yang mematikan nalar dan nurani.

Kami menjunjung kritik terbuka
sebagai tanda kecerdasan bangsa,
bukan ancaman bagi persatuan.
Sebab bangsa yang takut dikritik
adalah bangsa yang ragu pada kebenarannya sendiri.

Kami berjanji untuk berbicara dengan akal sehat,
bukan dengan amarah,
berbeda pendapat tanpa kehilangan adab,
dan tegas tanpa harus merendahkan.

Kami memahami bahwa wibawa bangsa
lahir dari keberanian menghadapi fakta,
bukan dari penyangkalan,
bukan dari drama,
dan bukan dari sikap cengeng
yang lari dari tanggung jawab.

Kami menjaga marwah bangsa
dengan menolak kebohongan yang dinormalisasi,
menolak pengkhianatan yang dibenarkan,
dan menolak kepentingan sempit
yang mengorbankan kehormatan bersama.

Kami meyakini bahwa
akal sehat adalah fondasi kebangsaan,
keadilan adalah tiang penyangga negara,
dan integritas adalah mahkota kekuasaan.

Kami tidak akan membiarkan
bangsa ini dipimpin oleh kebodohan yang angkuh,
atau oleh kepintaran tanpa moral.
Kami menuntut kecerdasan yang bertanggung jawab,
dan kekuasaan yang tahu batas.

Kami sadar,
marwah bangsa tidak dijaga dengan slogan,
melainkan dengan konsistensi.
Tidak ditegakkan dengan teriakan,
melainkan dengan keberanian mengambil risiko
demi kebenaran.

Dengan ikrar ini,
kami berdiri sebagai bangsa yang luhur,
berpikir jernih, bersuara merdeka,
dan bertindak bermartabat.

Marwah bangsa kami jaga.
Akal sehat kami kedepankan.
Pengkhianatan kami lawan.

Demi kehormatan hari ini,
dan harga diri generasi yang akan datang.

Bukan dengan ratapan, bukan dengan kebodohan yang berisik, melainkan dengan kejernihan pikiran dan keberanian etis. Inilah ikrar yang bukan untuk dipuja, melainkan untuk dijalani. Tabik.


Halaman:

Komentar