Minggu lalu, di tengah hamparan persawahan Aih Badak, Gayo Lues, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian turun langsung melihat dampak bencana. Ia tak hanya sekadar meninjau. Kunjungannya punya tujuan jelas: mendorong sawah-sawah yang rusak itu agar segera hidup kembali, menghijau, dan akhirnya kembali memberi pangan bagi daerah.
“Nah, sawah yang kena dampak seperti di Aceh ini, nanti masuk program optimalisasi lahan,” ujar Tito, dengan nada tegas.
“Intinya direvitalisasi. Dibikin produktif lagi,” tambahnya.
Menurutnya, upaya pemulihan ini akan digarap bareng dengan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman. Rupanya, Mentan sudah punya peta jalan sendiri. Ada konsep pemetaan menyeluruh untuk sawah-sawah terdampak di Aceh, Sumbar, dan Sumut. Ini sejalan dengan program besar pemerintah pusat soal swasembada pangan.
Mekanismenya ada dua. Pertama, mengoptimalkan lahan yang sudah ada. “Misalnya dengan benih, pupuk, perbaikan irigasi, dan sebagainya,” jelas Tito.
Yang kedua, mencetak sawah baru. Opsi ini lebih rumit, butuh waktu lama, misalnya dengan mengonversi hutan. Namun untuk kondisi Aceh sekarang, penekanannya justru pada opsi pertama: optimalisasi. Sawah yang tertimbun lumpur akan dibersihkan, lalu diberi dukungan penuh.
“Nanti akan ada bantuan lengkap: benih, irigasi, pupuk, sampai alat mesin pertanian. Rencananya, minggu depan saya gelar rapat untuk membahas ini,” janjinya.
Artikel Terkait
Berkas Kasus Penyiraman Andrie Yunus Dinyatakan Lengkap, Segara Dilimpahkan ke Pengadilan Militer
Islah Bahrawi Ungkap Mahfud MD sebagai Inspirasi Keberaniannya Kritik Prabowo
Stok Beras Pemerintah Capai Rekor Tertinggi 4,72 Juta Ton
Puan Maharani Desak Percepatan Kesejahteraan Guru Honorer yang Puluhan Tahun Mengabdi