“Lebih aman harusnya, kadang kalau lewat bawah masih ada mobil yang lewat dari arah Tanah Abang, nunggu lampu merahnya juga lama,” katanya.
Di sisi lain, proyek ini sempat memantik pro dan kontra. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengakui hal itu. Menurutnya, salah satu alasan utama pembangunan kembali justru untuk aksesibilitas kelompok difabel.
“Jadi JPO Sarinah dalam kajian, memang diperlukan terutama untuk difabel. Itu salah satu alasan kemudian kenapa diadakan,” jelas Pram usai meninjau sebuah puskesmas di Jakarta Selatan, Jumat lalu.
Ia pun menegaskan satu hal penting untuk menjawab kekhawatiran banyak orang.
“Enggak (ditutup). Jalan kaki di bawah kan tetap dibuka. Kemudian, di atas sebagai alternatif pilihan. Jadi tetap semua enggak ada yang ditutup,” tambahnya.
Jadi, intinya nanti warga punya pilihan. Mau yang cepat dan langsung tersambung ke halte, bisa lewat atas. Kalau lebih suka suasana jalanan, fasilitas penyeberangan di bawah tetap ada. Tinggal tunggu saja kapan jembatan ikonik itu resmi beroperasi kembali.
Artikel Terkait
Mahasiswi UIN Suska Riau Diserang Senjata Tajam di Ruang Sidang Kampus
KPK Perdalam Penyidikan Dugaan Pungli Sertifikat K3 di Kemnaker
Babak 16 Besar Liga Champions 2025/2026 Terkunci, 16 Tim Siap Bertarung
Ketua Gema Bangsa Usul Ganti Parliamentary Threshold dengan Ambang Batas Fraksi