“Lebih aman harusnya, kadang kalau lewat bawah masih ada mobil yang lewat dari arah Tanah Abang, nunggu lampu merahnya juga lama,” katanya.
Di sisi lain, proyek ini sempat memantik pro dan kontra. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengakui hal itu. Menurutnya, salah satu alasan utama pembangunan kembali justru untuk aksesibilitas kelompok difabel.
“Jadi JPO Sarinah dalam kajian, memang diperlukan terutama untuk difabel. Itu salah satu alasan kemudian kenapa diadakan,” jelas Pram usai meninjau sebuah puskesmas di Jakarta Selatan, Jumat lalu.
Ia pun menegaskan satu hal penting untuk menjawab kekhawatiran banyak orang.
“Enggak (ditutup). Jalan kaki di bawah kan tetap dibuka. Kemudian, di atas sebagai alternatif pilihan. Jadi tetap semua enggak ada yang ditutup,” tambahnya.
Jadi, intinya nanti warga punya pilihan. Mau yang cepat dan langsung tersambung ke halte, bisa lewat atas. Kalau lebih suka suasana jalanan, fasilitas penyeberangan di bawah tetap ada. Tinggal tunggu saja kapan jembatan ikonik itu resmi beroperasi kembali.
Artikel Terkait
Menjaga Marwah Bangsa: Ketika Keluhuran Batin Menjadi Fondasi Negara
Jalan Tol Menuju IKN Ambruk, Diduga Akibat Hujan Deras dan Pergerakan Tanah
Dunia Waspada: Langkah Trump ke Venezuela Buka Luka Lama Pengaruh Global AS
Trump Beri Ultimatum ke Kuba: Buat Kesepakatan, atau Hadapi Konsekuensi