Lalu, dengan tekanan yang lebih keras, ia menyebutkan satu per satu: Polisi kita… membunuh. Tentara kita… berpolitik. Presiden kita… mau maafin koruptor. Wakil presiden kita….. Gibran!
Ungkapan itu langsung memicu gelombang di media sosial. Cuitan-cuitan bernada sarkasme bermunculan, seolah mengonfirmasi suasana panas yang melingkupi kasus ini.
Seorang pengguna misalnya, cuma menulis singkat: "Iya lagi," disertai tangkapan layar yang memperlihatkan situasi tersebut. Seolah ini adalah sebuah lelucon yang berulang.
Di sisi lain, muncul analisis yang lebih tajam dari akun lain. Mereka menyoroti kecepatan proses hukum yang tidak biasa. "Barusan banget dapat info," tulisnya, menyebut ada pihak tertentu yang disebutnya 'parcok' yang begitu bernafsu menjebloskan sang komedian.
Menurut cuitan itu, demonstrasi berbayar didanai oleh pihak tersebut menggunakan perantara sipil. "Banyak pihak yang menitipkan ketersinggungannya via parcok," tulisnya disertai tawa terbahak-bahak. Narasi ini, benar atau tidak, menggambarkan betapa rumit dan politisnya atmosfer yang melatari semua kejadian ini.
Artikel Terkait
Pandji Bongkar Strategi Kuasa: Ormas Agama dan Politik Tambang
Hujan Tak Henti, Dua Jembatan di Donggala Putus Diterjang Banjir
Wajah Kita di Ujung Tangan AI: Pemerintah Tutup Akses Grok AI
Iran di Ambang Perubahan: Dari Protes Ekonomi ke Gugatan Sistem