Di sisi lain, ada dugaan kuat peran kekuasaan bermain di balik layar. Tujuannya? Agar mereka yang selama ini vokal justru sibuk bertengkar sendiri. Tekanan terhadap Jokowi soal isu ijazah pun bisa mengendur, bergeser jadi konflik internal antaraktivis. Akhirnya, perjuangan mereka terkurung dalam tempurungnya sendiri, semakin sempit.
Sutoyo menegaskan poin penting. Skenario besarnya adalah agar persoalan ijazah ini tidak akan pernah sampai ke meja hijau untuk diputus secara final. Tidak akan ada pengadilan yang benar-benar memvonis: ijazah Jokowi asli atau palsu, sampai berkekuatan hukum tetap (incracht).
“Kalau sampai diputus palsu di tingkat final, pasti akan menimbulkan goncangan politik yang sangat besar. Seperti yang sering diungkap para senior, ini bisa memicu prahara nasional. Karena, ijazah aslinya memang tidak ada,” katanya.
Memperjuangkan kebenaran dan keadilan, kata dia, adalah perintah Tuhan. Tapi ia mengingatkan, jangan sampai kita terjebak dalam permainan yang justru dimainkan oleh iblis kedzaliman.
Jadi, apa sikap yang dia sarankan? Sutoyo bilang, peristiwa seputar Bung Eggi Sudjana ini sebaiknya dilihat sebagai sasaran antara. Jangan direspon berlebihan. Bahkan kalau bisa, jangan direspon sama sekali.
“Agak repot juga,” akunya dengan nada sedikit frustrasi, “karena pemain di dunia podcast kadang sangat merepotkan. Sebagian dari mereka tidak sedang berjuang, tapi sedang memanfaatkan momentum.”
Pesan akhirnya sederhana: abaikan saja. Fokus pada tujuan utama.
Artikel Terkait
Tanggul Jebol, Banjir Setengah Meter Rendam Puluhan Rumah di Baros
Iran di Ambang Jurang: Krisis Roti yang Berubah Jadi Pemberontakan
Indonesia Blokir Grok: Langkah Tegas Lawan Penyalahgunaan Deepfake
Gus Irfan Ingatkan Petugas Haji: Layani Jemaah, Bukan Cuma Nebeng Ibadah