Kongres Muhammadiyah 1930: Pesta Akbar di Tengah Badai Malaise

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 14:00 WIB
Kongres Muhammadiyah 1930: Pesta Akbar di Tengah Badai Malaise

Fikrul menulis, filosofi Minang iduik bajaso mati bapusako berperan besar di sini. Kongres pun berjalan luar biasa meriah. Bukan cuma panitia dan warga Muhammadiyah, tapi seluruh komponen masyarakat bahu-membahu. Dari penyambutan di pelabuhan Padang, perjalanan ke Bukittinggi, hingga pelayanan di arena. Yang bikin hangat, jemaah tarekat dan warga Perti organisasi keagamaan lokal yang berdiri 1928 juga turut menyambut tamu dari seantero Hindia Belanda.

Panitia ingin yang terbaik untuk peserta. Dan selain kesuksesan acara, mereka sudah disuguhi pemandangan memukau Bukittinggi, si 'Parijs van Sumatra'. Kota yang dikelilingi tiga gunung (Merapi, Singgalang, Tandikat) dan 27 bukit ini memang jadi favorit orang Belanda untuk tinggal. Belum lagi Ngarai Sianok yang memesona. Oh iya, ini juga kota kelahiran Bung Hatta.

Bukti Jiwa Nasional

Muhammadiyah berdiri 1912. Awalnya, pertemuan tahunan pakai istilah Belanda: Algemene Vergadering, lalu Jaar Vergadering, baru kemudian 'congres' sejak 1923. Istilah 'muktamar' sendiri baru dipakai tetap sejak 1950. Nah, yang patut dicatat: sampai kongres ke-18, semua lokasinya cuma di Pulau Jawa. Kongres Bukittinggi 1930 ini adalah yang pertama di luar Jawa.

Bisa dibilang, ini mungkin pertemuan besar pertama di luar Jawa untuk organisasi sosial-politik di Hindia Belanda saat itu. Konsep 'nasional' memang masih asing. Walaupun Sumpah Pemuda sudah dikumandangkan 1928, kesadaran akan satu nusantara masih dalam taraf merangkak.

Sebelum Belanda datang, wilayah ini cuma kumpulan kerajaan dan kesultanan yang batasnya terbatas. Bahkan di banyak daerah, ikatannya masih berdasarkan kekerabatan atau teritori kecil. Sriwijaya dan Majapahit memang pernah menguasai wilayah luas, tapi itu tidak permanen. Wilayah nusantara seperti yang kita kenal sekarang ini adalah produk sampingan kolonialisme Belanda.

Gagasan kebangsaan baru benar-benar mengemuka awal abad ke-20. Bermunculanlah organisasi: Sarekat Dagang Islam (1905), Budi Utomo (1908), Indische Partij (1912), Muhammadiyah (1912), ISDV cikal bakal PKI (1914), Taman Siswa (1922), NU (1926), PNI (1927), dan seterusnya. Keragamannya luas, dari organisasi politik, sosial, budaya, sampai pendidikan.

Dari semua itu, cuma Muhammadiyah dan NU yang sebelum Indonesia merdeka sudah berani gelar pertemuan besar di luar Jawa. Muhammadiyah di Bukittinggi (1930), Makassar (1932), Banjarmasin (1935), dan Medan (1939). Mereka sudah 'menyentuh' empat pulau besar. NU menyusul dengan muktamar di Banjarmasin tahun 1936.

Organisasi politik macam SI atau PKI? Nggak pernah. Bahkan Budi Utomo yang dianggap pelopor kebangkitan nasional, sampai bubar 1935, sifatnya masih sangat Jawa-sentris. Mustahil mereka ngadain kongres di Sumatra.

Di sinilah letak kemajuan Muhammadiyah. Mereka, bersama NU, adalah organisasi yang benar-benar menasional dalam tindakan, bukan sekadar wacana. Kesadaran itu mungkin tidak diucapkan sebagai 'isme' kebangsaan waktu itu, tapi dampaknya nyata. Dua organisasi inilah yang paling mengakar dan bertahan hingga sekarang.

Dengan kata lain, Muhammadiyah bukan cuma organisasi keagamaan pertama yang berkongres di luar Jawa. Mereka adalah organisasi pertama secara keseluruhan yang melakukannya. Itu pencapaian yang luar biasa untuk zaman itu.

Buku Fikrul juga menuturkan dampak pasca-kongres. Cabang-cabang baru Muhammadiyah bermunculan di Minang. Mereka bahkan membeli Hotel Merapi di Padang Panjang kini jadi Kompleks Perguruan Muhammadiyah Kauman dan mendirikan Tablighschool. Para tokohnya punya visi strategis yang jeli. Mereka tahu kongres bukan sekadar acara seremonial, tapi momentum penguatan.

Untuk detailnya yang runtut dan foto-foto lawas yang kaya, ya silakan baca sendiri buku Fikrul ini. Gaya penulisannya khas wartawan: padat data tapi enak dibaca. Buku ini mengingatkan kita bahwa sejarah itu hidup, penuh warna, dan seringkali ditentukan oleh keputusan-keputusan berani di tengah kesulitan.


Halaman:

Komentar