Tak cuma itu, peran organisasi internasional juga terancam melemah. Khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang tampak tak berdaya menghadapi aksi-aksi AS di panggung global.
“Organisasi internasional seperti PBB lumpuh menghadapi ulah AS. Lumpuh karena penggunaan veto di Dewan Keamanan PBB dan keluarnya AS dari sejumlah badan PBB, yang berarti tidak lagi ada pembayaran iuran dari AS,” ungkapnya.
Yang menarik, Hikmahanto menyoroti satu fakta pahit: minimnya keberanian negara lain untuk melawan. Bahkan negara-negara besar sekalipun, sepertinya enggan berhadapan langsung dengan Washington.
“Terakhir, tidak ada negara yang berani menghadapi dan menghukum secara langsung ulah AS, sekalipun negara sekelas China atau Rusia,” tegasnya.
Lalu apa harapan yang tersisa? Hikmahanto menutup analisisnya dengan nada yang agak filosofis.
“Saat ini masyarakat dunia hanya bisa berharap pada Tuhan dan masyarakat AS, untuk melakukan impeachment (pemakzulan) dalam upaya menghentikan kekuasaan besar yang dimiliki oleh Trump untuk mengacaukan tatanan dunia,” tutupnya.
Jadi, situasinya memang rumit. Dunia seperti menyaksikan satu kekuatan super yang bergerak hampir tanpa penghalang, sementara mekanisme pengawasan global tampak kewalahan. Ke mana arahnya nanti? Itu pertanyaan besar yang jawabannya masih menggantung.
Artikel Terkait
Indonesia dan Turki Sepakati Aksi Nyata, Dari Gaza hingga Industri Pertahanan
Prajurit Gugur di Nduga, Ayah Banggakan Tekad Baja Anaknya yang Tak Pernah Menyerah
Megawati Bikin Heboh, Nyanyikan Cinta Hampa di Panggung Rakernas PDIP
Dendam Berdarah di Palangka Raya: Keponakan Tikam Paman Hingga Tewas