Dengan ketakutan, anak itu berlari mencari pertolongan. Ia menemui pamannya di jalan dan menyampaikan kabar buruk itu. Menurut Saebani, andai anak sulung ini juga menjadi korban, jenazah mungkin tak akan ditemukan secepat itu.
"Dia ketemu pamannya di jalan dan bilang dalam bahasa Jawa, 'Aku ke rumah paman tapi gelap. Adek diiket sama mamak'," ucap Saebani menirukan percakapan mereka.
"Jadi dia menyampaikannya bukan dengan kata 'digantung', tapi 'diiket'."
Dari penyelidikan sementara, tekanan hidup tampaknya menjadi pemicu. Korban diduga mengalami depresi berat, didorong oleh masalah ekonomi dan hubungan yang retak dengan suaminya.
"Sementara ini, kami melihat penyebabnya murni bunuh diri karena faktor ekonomi. Korban sudah ditinggal suaminya sekitar dua tahun," kata Saebani.
"Kami cek ponselnya. Ada pesan-pesan yang dikirim ke sang suami, tapi tak pernah dibalas."
Artikel Terkait
Bupati Tulungagung Ditahan KPK, Modus Pemerasan Kembali Mencuat
Perundingan AS-Iran di Islamabad Berakhir Tanpa Kesepakatan
BMKG Prakirakan Cuaca Makassar Cerah Berawan Sepanjang Hari Sabtu
Bareskrim Kejar Aset Tersangka Penipuan DSI Rp 2,4 Triliun untuk Restitusi Korban