Demonstrasi di Iran belum juga reda. Hari ini, Kamis (8/1), kabar duka datang dari barisan aparat. Seorang polisi dilaporkan tewas setelah ditusuk di tengah kerusuhan yang terjadi di kawasan Malard, tak jauh dari ibu kota Teheran.
Korban adalah Shahin Dehghan. Ia gugur beberapa jam lalu saat berupaya meredakan kerusuhan, begitu laporan kantor berita Fars.
Pencarian pelaku penusukan itu kini tengah digenjot.
Gelombang protes ini sebenarnya sudah berlangsung dua belas hari. Awalnya, para pedagang di Teheran yang turun ke jalan. Mereka marah melihat harga melambung dan nilai tukar rial yang terpuruk. Amarah itu dengan cepat menjalar, memicu aksi serupa di berbagai kota.
Berdasarkan hitungan AFP dari pernyataan resmi dan pemberitaan lokal, aksi unjuk rasa telah menjalar ke 25 dari 31 provinsi di Iran. Situasinya memanas. Puluhan orang dikabarkan tewas, termasuk dari kalangan pasukan keamanan.
Ini disebut-sebut sebagai tantangan paling serius bagi pemerintah sejak gelombang protes nasional 2022-2023 silam. Waktu itu, pemicunya adalah kematian Mahsa Amini di tangan polisi moral karena masalah jilbab.
Memang, skalanya belum seluas gerakan dua tahun lalu yang menelan korban ratusan jiwa. Tapi situasi kali ini punya tekanan sendiri. Negeri ini sedang dilanda krisis ekonomi yang parah, belum lagi bayang-bayang perang singkat dengan Israel pertengahan tahun lalu. Kombinasi yang berbahaya.
Korban Berjatuhan di Teheran
Buktinya, Selasa lalu di Teheran, demo besar berubah ricuh. Sebuah LSM HAM yang berbasis di Norwegia, IHR, melaporkan puluhan orang tewas. Angkanya mencapai 27 orang, dan yang memilukan, lima di antaranya adalah anak-anak di bawah umur.
Biaya hidup yang mencekik dan mata uang yang terus melemah jelas jadi bensin yang menyulut amarah warga.
Laporan IHR juga menyoroti tindakan aparat yang dinilai kelewat batas. Mereka disebut menyerbu sebuah rumah sakit di Hasanabad, Teheran, dan menembakkan gas air mata ke dalam gedung. Sebuah klaim yang tentu saja menambah suram gambaran situasi.
Di sisi lain, kepolisian Iran lewat AFP mengonfirmasi bahwa mereka pun kehilangan anggotanya dalam kerusuhan-kerusuhan ini. Sebuah pengakuan yang jarang, dan mungkin menggambarkan betapa runyamnya keadaan di lapangan.
Artikel Terkait
Jonatan Christie Kunci Tiket Semifinal Indonesia Open 2026 Usai Kalahkan Yushi Tanaka
Polisi Sita 1,5 Kg Sabu dari Pasutri Bandar di Rest Area Tol Sragen
KPK Sita Harley Davidson, Ducati, dan Dua Porsche dari Rumah Wamen Imipas Nonaktif Silmy Karim
Perempuan Lansia di Madiun Jadi Korban Hipnotis, Kerugian Capai Rp30 Juta