Rayuan Murahan, Uang Miliaran: Kisah Pilu di Balik Gerebekan Love Scammer

- Kamis, 08 Januari 2026 | 12:40 WIB
Rayuan Murahan, Uang Miliaran: Kisah Pilu di Balik Gerebekan Love Scammer
Artikel Love Scammer

Angka itu bikin melongo: tiga puluh tiga miliar rupiah per bulan. Itu yang bisa dikeruk para love scammer. Pantesan, negara seperti Kamboja terlihat serius membidik bisnis haram semacam ini. Modal utamanya cuma rayuan murahan, tapi hasilnya? Sungguh luar biasa atau lebih tepatnya, mengerikan.

Nah, perlu dicatat. Induk dari seluruh operasi ini, setidaknya yang baru-baru ini digerebek di Jogja, ternyata bermarkas di China. Namanya PT Altairs. Pola yang sama terlihat di Kamboja. Intinya, otak-otak utama ada di sana. Mereka kemudian membangun jaringan cabang di berbagai negara, dengan Kamboja sebagai pusat terbesarnya. Beberapa titik juga merambah ke Indonesia.

Dalam penggerebekan itu, polisi menyita puluhan laptop dan ratusan ponsel. Dua jenis alat elektronik itu jadi senjata andalan untuk melancarkan aksi mereka, lewat berbagai aplikasi kencan online.

Mayoritas pekerjanya adalah pria. Tugas mereka? Menyamar sebagai wanita cantik, seksi, dan pandai merayu. Foto-foto profil mereka comot dari mana saja. Setelah koneksi terjalin dan percakapan memanas, biasanya korban akan dikirimi video porno sebagai umpan. Syaratnya? Transfer duit dulu.

Jadi, bisnis intinya memang bermain di ranah nafsu. Lelaki-lelaki yang mudah tergoda jadi sasaran empuk. Mereka ‘diporotin’ bukan cuma duit, tapi juga perasaan.

Lalu, bagaimana kalau korbannya perempuan?

Modusnya beda. Rayuannya pakai gombalan klasik. Si korban dipuji cantik, manis, imut. Disisipi kata-kata “I Love You, Ayang” yang diulang-ulang sampai bikin mabuk kepayang. Perhatiannya pun dijaga terus. Ditanya kabarnya tiap saat, disuruh makan, disuruh jaga kesehatan. Semua itu datang dari para ‘kadal buntung’ di balik layar.

Memang, bagi sebagian orang, rayuan seperti ini terasa sangat murahan. Bikin eneg. Tapi nyatanya, masih banyak yang terjebak, terutama perempuan yang merasa kesepian. Setelah perasaan korban benar-benar klepek-klepek, barulah tahap penipuan finansial dimulai. Duit dikuras habis. Lalu si pelaku menghilang, tepat di saat korban lagi sayang-sayangnya. Kasihan? Iya. Tapi kadang kita juga geleng-geleng.

Jadi, intinya apa? Hati-hati saja main di media sosial. Jangan mudah terbawa suasana. Sadari diri, masa-masa cari perhatian dan tebar pesona mungkin sudah lewat. Kalau dipaksakan, risikonya besar.

Bisa-bisa, yang datang malah ‘azab’ dalam bentuk penipuan berkedok percintaan.

Mending hidup dijalani apa adanya. Lurus-lurus saja. Kalau kita berusaha menjaga sikap dan pergaulan, baik di dunia nyata maupun maya, insya Allah yang kita temui juga orang-orang baik. Sebaliknya, kalau sukanya keluyuran di area “genit” dan penuh tipu daya, ya jangan kaget ketemu buaya darat.

Waspadalah… waspadalah.

(Widi Astuti)

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar