Ia juga mengutip teori Gatekeeper dari Kurt Lewin. Teori itu memperingatkan bahaya ketika informasi terlalu disaring, dikontrol, dan difilter secara berlebihan. Motifnya cuma satu: menyenangkan atasan, atau praktik Asal Bapak Senang (ABS).
“Informasi satu pintu itu bukan sistem, tapi bottleneck. Sistem satu pintu adalah pedang bermata dua. Presiden terlalu percaya pada inner circle yang justru membahayakan dirinya,”
tegasnya.
Lebih jauh, sorotan tajam ditujukan pada social listening team. Tim yang seharusnya memantau dan menganalisis percakapan publik di media sosial itu dinilai gagal total fungsinya. Macet. Alhasil, Presiden selalu telat mengetahui gejolak yang muncul dari publik.
Dampaknya adalah information asymmetry yang parah. Bahkan laporan dari tim red team yang mestinya jadi alarm dini, sering diabaikan. Laporan penting macet di level kementerian atau staf kepresidenan, tidak naik ke atas.
“Atas kondisi ini, khusus untuk Menteri Setkab, Setneg, dan staf kepresidenan, mutlak harus segera distirahatkan. Mereka terlihat tidak memiliki kompetensi pada jabatannya dan sangat membahayakan Presiden,”
kata Sutoyo.
Sense of urgency mereka dinilai hilang. Laporan yang mestinya cepat sampai ke Presiden, bukan cuma difilter, tapi dihentikan sama sekali di meja mereka.
“Jika Presiden hanya mendengar informasi yang sudah difilter, bahkan berhenti di pejabat tertentu, maka Presiden akan terisolasi dari realitas dan denyut negara yang sesungguhnya sedang terjadi,”
pungkasnya. (Ys)
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Mundur dari Ketua Umum IPSI di Munas ke-16
Mentan Proyeksikan Stok Beras Nasional Tembus 5 Juta Ton, Dorong Hilirisasi Inovasi Kampus
Remaja 14 Tahun Hilang di Hutan Mamuju, Pencarian Gabungan Masih Berlangsung
Truk Skylift Dinas Perhubungan Gianyar Hangus Terbakar Diduga Akibat Korsleting