Bagi Beijing, pernyataan itu terang-terangan provokatif. China selalu memandang Taiwan sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayahnya klaim yang ditolak mentah-mentah oleh pemerintah di Taipei. Hubungan kedua negara tetangga ini pun semakin memburuk. Kementerian Luar Negeri China bahkan menuding Jepang sengaja memanfaatkan isu Taiwan sebagai dalih untuk membesarkan kekuatan militer dan memperluas pengaruhnya di luar negeri.
Di sisi lain, reaksi Tokyo datang cepat. Kementerian Luar Negeri Jepang langsung melayangkan protes keras dan mendesak China mencabut keputusannya. Pemerintah Jepang beranggapan langkah China ini menyimpang dari norma internasional, karena terkesan hanya menargetkan Jepang secara spesifik.
Meski China tidak merinci satu per satu barang yang dibatasi, Reuters mencatat ada sekitar 1.100 item dalam daftar kontrol ekspor barang dwiguna mereka. Tujuh di antaranya adalah jenis rare earth. Fakta ini penting, mengingat sekitar 60% impor rare earth Jepang masih bergantung pada China. Ketergantungan yang cukup signifikan.
Menariknya, data bea cukai China hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda penurunan ekspor. Justru sebaliknya. Pada November lalu, ekspor rare earth malah melonjak 35% menjadi 305 ton angka tertinggi sepanjang tahun ini.
Namun begitu, di lapangan, ceritanya agak berbeda. Sejumlah perusahaan Jepang mengeluh bahwa proses perizinan ekspor rare earth dari China belakangan ini molor. Waktunya jadi lama banget. Memang belum bisa dipastikan apakah ini dampak langsung dari ketegangan diplomatik yang memanas, atau sekadar kendala birokrasi biasa. Tapi, timing-nya membuat banyak pihak bertanya-tanya.
Artikel Terkait
Truk Gandeng Melaju Liar, Nyawa Pengendara Motor Melayang di Bondowoso
Peringkat Naik, Tapi Laut Indonesia Masih Rapuh untuk Nelayan Kecil
Bus Besar dan Jalan Sempit: Kemacetan Kronis Kembali Paralyze Sawangan
Pengkhianat dalam Barisan: Saat Aktivis Antipalsu Bertandang ke Istana