Pada Selasa lalu, Kementerian Perdagangan China mengeluarkan pengumuman yang langsung berlaku: ekspor barang dual-use atau dwiguna ke Jepang resmi dilarang. Langkah ini tegas dan tanpa kompromi. Barang-barang yang dimaksud adalah komoditas yang bisa dipakai untuk kebutuhan sipil sekaligus militer.
Menurut laporan Reuters, larangan ini menyasar ekspor yang ditujukan untuk pengguna militer Jepang, atau untuk kepentingan apa pun yang bisa memperkuat kemampuan pertahanan mereka. Sanksi hukum akan menanti para pelanggar, baik perorangan maupun organisasi, dari negara mana saja.
Jadi, apa saja yang termasuk barang dwiguna? Cakupannya luas. Mulai dari perangkat lunak, teknologi tertentu, hingga mineral tanah jarang atau rare earth. Bahan-bahan ini krusial, lho, untuk memproduksi drone, semikonduktor, dan berbagai peralatan militer canggih.
Latar belakang kebijakan ini tentu saja politik. Langkah Beijing ini bukan muncul tiba-tiba. Ini adalah respons langsung terhadap pernyataan panas Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, awal November lalu.
Takaichi waktu itu menyebut potensi serangan China ke Taiwan sebagai "ancaman eksistensial" bagi Jepang.
Bagi Beijing, pernyataan itu terang-terangan provokatif. China selalu memandang Taiwan sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayahnya klaim yang ditolak mentah-mentah oleh pemerintah di Taipei. Hubungan kedua negara tetangga ini pun semakin memburuk. Kementerian Luar Negeri China bahkan menuding Jepang sengaja memanfaatkan isu Taiwan sebagai dalih untuk membesarkan kekuatan militer dan memperluas pengaruhnya di luar negeri.
Di sisi lain, reaksi Tokyo datang cepat. Kementerian Luar Negeri Jepang langsung melayangkan protes keras dan mendesak China mencabut keputusannya. Pemerintah Jepang beranggapan langkah China ini menyimpang dari norma internasional, karena terkesan hanya menargetkan Jepang secara spesifik.
Meski China tidak merinci satu per satu barang yang dibatasi, Reuters mencatat ada sekitar 1.100 item dalam daftar kontrol ekspor barang dwiguna mereka. Tujuh di antaranya adalah jenis rare earth. Fakta ini penting, mengingat sekitar 60% impor rare earth Jepang masih bergantung pada China. Ketergantungan yang cukup signifikan.
Menariknya, data bea cukai China hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda penurunan ekspor. Justru sebaliknya. Pada November lalu, ekspor rare earth malah melonjak 35% menjadi 305 ton angka tertinggi sepanjang tahun ini.
Namun begitu, di lapangan, ceritanya agak berbeda. Sejumlah perusahaan Jepang mengeluh bahwa proses perizinan ekspor rare earth dari China belakangan ini molor. Waktunya jadi lama banget. Memang belum bisa dipastikan apakah ini dampak langsung dari ketegangan diplomatik yang memanas, atau sekadar kendala birokrasi biasa. Tapi, timing-nya membuat banyak pihak bertanya-tanya.
Artikel Terkait
Remaja 19 Tahun Tega Bunuh dan Cabuli Bocah SD di Makassar, Polisi Tangkap Pelaku Saat Buat Keributan
Sapi Limosin 1,2 Ton Bantuan Presiden untuk Iduladha di Karawang Sempat Stres Nyaris Serang Petugas
Polisi Maros Bekuk 10 Anggota Geng Motor yang Serang Warga dengan Panah dan Senjata Tajam
Istri Yaqut Qoumas Jenguk Suami di KPK saat Idul Adha, Bawakan Tempe Goreng