Cerita Fandi Ramadhan ini bikin hati miris. Dia cuma anak nelayan dari Langkat, lulusan sekolah pelayaran, yang cari kerja. Hasilnya di kampung pas-pasan. Lalu datang tawaran kerja di kapal Thailand. Buat seorang pemuda 26 tahun yang terimpit ekonomi, tawaran itu bagai pintu harapan. Dia pun terbang ke sana, biaya ditanggung pemberi kerja.
Namun, harapan itu berubah jadi petaka. Setelah menunggu sepuluh hari, kapten kapalnya, Hasiholan Samosir, memberi tahu Fandi akan bertugas di sebuah kapal tanker. Di tengah pelayaran menuju Phuket, ada keanehan. Kapal itu memasukkan muatan baru: 67 kardus besar.
Fandi yang bekerja di bagian mesin disuruh ikut mengangkut. Dalam pleidoinya, dia mengaku sempat curiga. Tapi apa daya? Dia tak berani bertanya. "Saya hanya menjalankan tugas sesuai fungsi sebagai ABK bagian mesin," katanya. Dia bersikukuh tak pernah terlibat dalam penentuan muatan, rute, atau pelabuhan. Motifnya cuma satu: kerja.
Nasib sial menghampiri hanya beberapa jam kemudian. Di perairan Karimun, kapal mereka digrebek aparat Bea Cukai dan BNN. Isi kardus-kardus itu ternyata sabu-sabu. Beratnya hampir dua ton. Fandi, si anak mesin yang cuma nurut perintah, tiba-tiba berhadapan dengan jerat hukum narkoba kelas berat.
Pada 5 Februari 2026, jaksa menuntutnya hukuman mati. Tuntutan yang sama juga dijatuhkan kepada kapten kapal dan empat orang lainnya, termasuk dua warga Thailand. Fandi dianggap bagian dari sindikat. Jaksa berargumen dia tidak naif. Sejak awal, katanya, Fandi tahu direkrut agen ilegal untuk kapal Sea Dragon yang akan mengangkut sabu. Ada bukti transfer Rp 8,2 juta dari seseorang bernama Hotman.
Di sisi lain, terdengar ganjil. Bagaimana mungkin tuntutan untuk seorang ABK bawahan disamakan dengan kapten dan WNA yang jelas punya kewenangan lebih besar? Hukum terasa timpang.
Artikel Terkait
BSN Merambah Ekosistem Muhammadiyah untuk Dongkrak Pasar Perbankan Syariah
Mantan Presiden Yoon Suk-yeol Ajukan Banding Atas Vonis Seumur Hidup
Presiden Sheinbaum Jaminkan Keamanan Piala Dunia 2026 di Guadalajara Pascabentrokan Berdarah
Persebaya vs PSM: Duel Penuh Tekanan untuk Hentikan Tren Kekalahan