Isu ambang batas parlemen kembali mencuat. Kali ini, usulan datang dari NasDem yang mendorong angka itu dinaikkan jadi 7 persen. Surya Paloh, sang ketua, menyatakan partainya akan konsisten dengan usulan tersebut. Menurutnya, sistem multipartai yang ada sekarang perlu bergerak ke arah selected party agar lebih efektif.
"Bagaimanapun juga, kita memang, NasDem berpikir, sejujurnya, dari sistem multipartai, kalau bisa kita berubah menjadi selected party, itu jauh lebih efektif," ujar Paloh di NasDem Tower, Menteng, beberapa waktu lalu.
Dia melanjutkan, langkah itu dinilainya penting untuk menjaga stabilitas pemerintahan sekaligus mengoptimalkan manfaat demokrasi. Paloh agak merenung, mempertanyakan esensi demokrasi jika tak membawa kemanfaatan nyata.
"Kita terlalu gembira dengan banyaknya partai politik. Tapi di sisi lain, untuk apa demokrasi kalau tidak membawa azas manfaat dan konsistensi kita menuju arah cita-cita kemerdekaan," tambahnya.
Namun begitu, usulan peningkatan ambang batas ini tak luput dari kritik. Bagi sebagian pengamat, justru penghapusan total ambang batas lah yang lebih demokratis. Adi Prayitno dari Parameter Politik Indonesia (PPI) termasuk yang berpandangan demikian.
"Zero threshold itu jauh lebih demokratis karena tidak menghilangkan suara rakyat," tegas Adi saat dihubungi.
Dia tak sungkan menyebut ambang batas parlemen sebagai sesuatu yang "sangat zalim". Alasannya sederhana: banyak suara pemilih yang akhirnya terbuang percuma. Bayangkan saja, orang-orang yang memilih partai kecil tapi tak lolos ke parlemen suara mereka seperti menguap begitu saja.
"Padahal, orang yang pilih partai yang dinyatakan tak lolos parlemen itu juga rakyat, mereka punya aspirasi," katanya dengan nada prihatin.
Intinya, debat antara efisiensi pemerintahan dan representasi suara rakyat masih akan berlanjut. Di satu sisi ada keinginan untuk pemerintahan yang stabil dan mudah bergerak. Di sisi lain, ada prinsip dasar demokrasi bahwa setiap suara berharga dan punya tempat. Mana yang akan menang? Waktu yang akan menjawab.
Artikel Terkait
Seskab Teddy Indra Wijaya Borong 35 Sapi Kurban dari Peternak Lokal Boyolali
Bus PO Coyo Hangus Terbakar di Jalur Pantura Cirebon, Diduga Korsleting AC
Penelitian Ungkap Alasan Ilmiah Kursi Tengah di Bus Sering Kosong Meski Banyak Penumpang Berdiri
Pemprov Banten Kembali Raih Opini WTP dari BPK untuk Kesepuluh Kalinya Berturut-turut