María Corina Machado dan Dilema Oposisi yang Menggadaikan Kedaulatan

- Rabu, 07 Januari 2026 | 11:36 WIB
María Corina Machado dan Dilema Oposisi yang Menggadaikan Kedaulatan

Pelajaran bagi Indonesia di Tengah Politik Oportunis

Indonesia jelas bukan Venezuela. Tidak ada tank asing di jalanan ibu kota, tidak ada sanksi ekonomi yang mencekik langsung. Tapi sejarah punya cara berulang yang unik, sering dengan pola mirip dalam bungkus konteks berbeda. Di situlah bahayanya.

Pelajaran dari Venezuela bukan cuma soal intervensi asing. Lebih dari itu, ini tentang bagaimana elite politik dalam negeri merespons tekanan dan krisis. Ketika negara di persimpangan, selalu ada dua pilihan. Ada yang memilih menahan diri, merawat kewarasan publik, dan menjaga agar konflik tidak melampaui batas. Sebagian lain justru melihat krisis sebagai peluang. Di tangan kelompok kedua inilah politik berubah dari sarana pengabdian menjadi alat percepatan kekuasaan.

Politik oportunis tumbuh subur ketika krisis diperlakukan sebagai komoditas. Kesulitan rakyat jadi latar panggung. Kegagalan kebijakan dijadikan bahan bakar emosi. Ketidakpastian dibiarkan berlarut karena di situlah sorotan kamera paling terang. Dalam situasi seperti itu, yang dikejar bukan penyelesaian, melainkan momentum. Bukan pemulihan, melainkan positioning. Negara perlahan kehilangan orientasi, karena setiap masalah dinilai dari seberapa besar keuntungan politik yang bisa dipetik.

Bahaya terbesarnya bukan cuma polarisasi internal, tapi kerusakan reputasi nasional. Di dunia yang terhubung, narasi tentang sebuah negara bergerak cepat melampaui batas teritorialnya. Ketika elite politik berlomba-lomba mendeligitimasi negaranya sendiri di mata internasional menyebutnya gagal, rusak, atau tak layak dipercaya yang tergerus bukan cuma pemerintah yang berkuasa, tapi kepercayaan terhadap negara itu sendiri. Reputasi yang rusak memukul semua: rakyat, pelaku usaha, dan generasi mendatang.

Di titik inilah perbedaan antara kritik bertanggung jawab dan kritik oportunis menjadi nyata. Kritik yang bertanggung jawab bertujuan memperbaiki, meski keras. Kritik yang oportunis bertujuan menjatuhkan, meski harus mengorbankan kepentingan jangka panjang bangsa. Yang pertama menjaga rumah sambil memperbaiki atap bocor. Yang kedua tak segan membesarkan kebocoran agar rumah tampak pantas dirobohkan lalu menawarkan diri sebagai arsitek rumah baru.

Kita punya sejarah panjang dalam mengelola perbedaan. Indonesia pernah jatuh, bangkit, dan belajar bahwa konflik politik yang tak terkendali selalu berujung pada harga sosial yang mahal. Maka para pendiri bangsa meletakkan etika kebangsaan di atas sekadar kompetisi kekuasaan. Mereka paham, demokrasi tanpa kedewasaan hanya melahirkan keributan. Kebebasan berbicara tanpa tanggung jawab akan jadi kebisingan yang melumpuhkan.

Di sinilah politikus oportunis jadi ancaman sunyi. Mereka tak selalu datang dengan retorika kasar. Sering justru tampil rapi, fasih bicara demokrasi, HAM, dan tata kelola. Masalahnya bukan pada nilai-nilai itu, tapi pada cara dan tujuannya. Ketika nilai luhur dijadikan alat untuk mengamankan posisi, bukan memperbaiki sistem, politik kehilangan dimensi moralnya.

Pelajaran terpenting dari Venezuela mungkin ini: negara jarang runtuh hanya karena tekanan luar. Ia runtuh karena dari dalam kehilangan daya tahan etis. Ketika elite politik lebih sibuk saling menjatuhkan daripada merawat kepentingan nasional, pintu intervensi terbuka dengan sendirinya. Bukan karena kekuatan luar terlalu kuat, tapi karena bangsa itu sendiri terlalu terpecah untuk menolaknya.

Kita masih punya modal besar: persatuan sosial, pengalaman sejarah, institusi yang meski tak sempurna masih berdiri. Modal ini hanya bisa dijaga jika para elite mampu menempatkan ambisi pada tempatnya. Kompetisi politik harus tetap berjalan, tapi jangan dengan mengorbankan martabat negara. Kritik harus tetap hidup, tapi bukan dengan membakar rumah sendiri agar tampak sebagai pahlawan pemadam kebakaran.

Pada akhirnya, perbedaan antara negarawan dan oportunis selalu terlihat jelas di saat-saat sulit. Negarawan bertanya apa yang terbaik bagi bangsa, meski itu berarti menahan diri. Oportunis bertanya apa yang terbaik bagi dirinya, meski itu berarti memperdalam luka nasional. Venezuela memberi kita cermin yang jujur. Alangkah baiknya kita belajar, sebelum cermin itu retak di tangan kita sendiri.


Halaman:

Komentar