Sandi Magrib di Sumber: Runtuhnya Menara Fitnah dalam 723 Bukti
Solo, 8 Januari 2026 Senja di Banjarsari perlahan menutup hari dengan warna jingga. Sebuah sedan hitam melaju pelan, mendekati rumah pribadi Joko Widodo. Di dalamnya, suasana sesak. Eggi Sudjana, wajah perlawanan terhadap legitimasi mantan presiden itu, sedang menjalani perjalanan yang barangkali paling berat: perjalanan untuk mengakui sebuah kesalahan. Pertemuan ini jauh dari sekadar formalitas. Lebih mirip sebuah "Requiem untuk Fitnah".
Menurut sejumlah saksi, bayangan dari 723 barang bukti yang disita Polda Metro Jaya seolah ikut menyelinap ke ruang tamu. Itulah labirin yang membelenggu langkah Eggi. Bukan cuma tumpukan kertas biasa. Itu adalah kesaksian material yang bisu, tapi teriakannya nyaring.
Ada aura kertas yang menua. Hasil uji forensik lab menunjukkan, pulp kayu pada ijazah itu sama persis dengan yang digunakan UGM di era 80-an. Lalu, detail micro-printing yang rumit. Pola mikroskopis yang cuma bisa dibuat oleh percetakan uang negara, Peruri. Dan itu utuh, tertanam pada dokumen yang selama ini mereka sebut "palsu".
Kuasa hukumnya, Elida Netty, dikabarkan sempat terdiam lama. Melihat bukti fisik langsung adalah soal lain. Bukan lagi permainan pasal, tapi benturan di dalam hati. Ia harus mengakui pada kliennya, bahwa hantu yang dikejar bertahun-tahun ternyata adalah batu karang yang kokoh.
Suasana di dalam rumah Sumber sendiri justru tenang. Kontras sekali. Jokowi menyambut dengan sikap bersahaja yang justru menusuk. Tak ada kemarahan. Hanya tatapan teduh yang membuat siapa pun merasa kecil.
Di situlah, lewat ajudannya Kompol Syarif Muhammad Fitriansyah, Jokowi melontarkan kalimat yang mengguncang.
Itu adalah sebuah maestro diplomasi. Di satu sisi, ada pengampunan yang menenangkan. Di sisi lain, pedang keadilan tetap tergantung. Jokowi seakan bilang, martabat institusi kepresidenan tak bisa ditukar dengan sekadar jabat tangan di ruang tamu.
Artikel Terkait
Brimob Tembak Warga di Tambang Ilegal Bombana, Empat Personel Diperiksa Propam
Iran Padamkan Internet, Tuding AS dan Israel Picu Kerusuhan dari Aksi Damai
Dentuman Kembali di Aleppo, 22 Nyawa Melayang dalam Bentrokan
Gaji Dua Digit: Simbol Prestasi atau Jerat Kecemasan?