Wamensos Agus Jabo Serukan Persatuan di Haul Diponegoro, Ingatkan Jati Diri Bangsa

- Jumat, 09 Januari 2026 | 11:12 WIB
Wamensos Agus Jabo Serukan Persatuan di Haul Diponegoro, Ingatkan Jati Diri Bangsa

Di kompleks Monumen Sasana Wiratama, Yogyakarta, suasana Kamis pagi itu terasa khidmat. Wamensos Agus Jabo Priyono hadir dalam Haul ke-171 Pangeran Diponegoro, yang digelar di Ndalem Tegalrejo. Tanggal 8 Januari 2026 ini, acara mengusung tema “Merajut Silaturahmi dalam Warisan Perjuangan”.

Dalam sambutannya, Agus Jabo tak lupa mengajak seluruh hadirin berdoa. Doa itu khusus ditujukan untuk saudara-saudara di Sumatra yang sedang berjuang menghadapi musibah banjir dan tanah longsor. “Semoga mereka segera bangkit,” ujarnya.

“Sebagai orang Jawa, kita diajarkan untuk mikul duwur mendem jero,” kata Agus Jabo.

“Mendoakan para leluhur yang telah mendarmabaktikan hidupnya demi kemerdekaan.”

Pidatonya kemudian mengalir ke soal kondisi bangsa. Menurutnya, Indonesia memang bangsa yang kuat. Namun begitu, arah kehidupan berbangsa dan bernegara perlu ditata ulang agar selaras dengan jati diri. “Jati diri karakter bangsa yang menyatu dengan alam, peka terhadap penderitaan rakyat, serta setia nguri-uri nilai dan warisan leluhur,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan arahan terbaru Presiden Prabowo Subianto. Arahan itu disampaikan dalam retret kabinet pada 6 Januari lalu. Intinya, dunia saat ini penuh pergolakan dan ketidakpastian. Di tengah situasi seperti itu, persatuan dan nasionalisme adalah kunci keselamatan.

“Kita akan selamat jika terus bersatu,” ungkap Agus Jabo.

“Mempertahankan semangat nasionalisme, dan bergotong royong melindungi kepentingan nasional. Itulah cara kita menghadapi dunia yang tidak stabil.”

Di sisi lain, pemerintah disebutnya terus berjuang lewat berbagai program prioritas. Tujuannya sederhana: agar manfaat pembangunan cepat dirasakan rakyat. Ia menyebut Sekolah Rakyat, program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga kemandirian pangan dan pembangunan kampung nelayan. Semua itu pada akhirnya untuk menghadirkan kebahagiaan, lahir dan batin.

Nilai-nilai perjuangan seperti itu, menurut Agus Jabo, juga diwariskan oleh Pangeran Diponegoro. Figur pangeran itu layak diteladani. “Beliau lahir sebagai bangsawan, tetapi keluar dari keraton untuk manunggal dengan Tuhan, alam semesta, leluhur, dan rakyat kecil,” paparnya.

“Itulah jati diri orang Jawa yang sejati.”

Bagi Agus Jabo, Diponegoro bukanlah sosok pencari kekuasaan. Ia lebih merupakan simbol kebijaksanaan. Perlawanannya yang mengguncang Belanda dilandasi keberanian, martabat, dan cinta tanah air yang tulus. Sayangnya, Indonesia hari ini kehilangan banyak tokoh panutan semacam itu.

Karena itulah, peringatan haul ini diharapkannya tak sekadar ritual doa. Lebih dari itu, harus jadi pengamalan nilai-nilai perjuangan dalam kehidupan nyata.

Sebagai wujud kepedulian, Kementerian Sosial menyalurkan santunan dalam acara itu. Santunan diberikan kepada 69 anak dari dua panti asuhan, yaitu Panti Asuhan Bina Siwi dan Panti Asuhan Sasana Kreatif Mandiri.

Acara haul itu sendiri dihadiri banyak pihak. Tampak hadir Syekh Abu Zaki As Sauri, Penasihat Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro Gusti Yudha beserta jajarannya. Kemudian perwakilan keluarga besar Diponegoro, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Kepala Dinas Sosial Jateng, para ulama, jemaah, serta jajaran Kementerian Sosial termasuk para Kepala Sentra dari Baturaden, Solo, dan Magelang.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar