Foto Maduro dalam tahanan yang dibagikan Trump di media sosial, serta janji muluk untuk "membangun kembali Venezuela", termasuk sektor minyaknya yang kaya, menyempurnakan bingkai itu: sebuah aksi heroik melawan kejahatan terorganisir.
Dan strategi komunikasi itu cukup ampuh, setidaknya di dalam negeri. Dukungan publik AS relatif kuat. Komunitas diaspora Venezuela di Miami dan tempat lain pun ramai merayakannya di jalan-jalan. Media arus utama Barat, secara umum, mengamplifikasi versi cerita ini. Oposisi Venezuela di pengasingan juga menyambut baik.
Maria Corina Machado, salah satu tokoh oposisi, menyebut momen itu sebagai "awal dari kebebasan".
Tapi, narasi AS tidak lantas mendominasi panggung global. Di sisi lain, reaksinya justru keras. Rusia dan China, misalnya, dengan tegas menyebutnya sebagai "agresi imperialis" yang melanggar kedaulatan negara. Kuba dan sejumlah negara Amerika Latin ikut mengutuk. Suara dunia terbelah, memperlihatkan sebuah kenyataan pahit: di era multipolar seperti sekarang, sulit bagi satu kekuatan untuk mengendalikan cerita sepenuhnya.
Pada akhirnya, krisis Venezuela 2026 ini adalah pelajaran mahal. Ia menunjukkan betapa komunikasi publik, lewat pembingkaian yang cerdas dan saluran digital yang cepat, telah menjadi alat legitimasi yang tak kalah penting dari kekuatan senjata. Kekuatan sejati di abad informasi mungkin bukan hanya siapa yang punya tentara terkuat, tapi siapa yang paling piawai menceritakan kisahnya kepada dunia.
Artikel Terkait
Pidie Jaya Terendam Lagi, Warga Minta Normalisasi Sungai Segera Dikerjakan
Swasembada Pangan 2025: Tonggak Kedaulatan di Tengah Perang Global Pangan dan Energi
Kejagung Turun Tangan, Data Perubahan Fungsi Hutan Diperiksa
Angin Kencang dan Hujan Deras Robohkan Lima Rumah di Tambakrejo