Manohara Tegas Tolak Label Mantan Istri, Minta Media Hentikan Narasi Keliru

- Rabu, 07 Januari 2026 | 08:50 WIB
Manohara Tegas Tolak Label Mantan Istri, Minta Media Hentikan Narasi Keliru

MURIANETWORK.COM – Sorotan publik kembali tertuju pada Manohara Odelia. Kali ini, bukan karena berita baru, melainkan sebuah surat terbuka yang dia unggah di Instagram. Isinya? Sebuah permintaan yang cukup tegas untuk melupakan masa lalu.

Atau lebih tepatnya, melupakan cara orang-orang menyebut masa lalunya. Manohara merasa lelah. Bayang-bayang kejadian lama, menurutnya, terus-menerus dihadapkan padanya, padahal itu seharusnya sudah selesai.

Intinya, dia minta publik berhenti menyangkutpautkan cerita lama dengan hidupnya yang sekarang. Dia berharap permohonannya didengar.

“Selama bertahun-tahun, saya berulang kali disebut dalam artikel dan judul berita sebagai, 'Mantan istri...'. Saya menulis surat ini untuk dengan hormat mengklarifikasi bahwa deskripsi itu tidak akurat dan menyesatkan,” ujar Manohara, Rabu (7/1/2026) lalu.

Lalu, apa maksud sebenarnya di balik pernyataan keras itu?

Bagi Manohara, apa yang dialaminya di masa remaja itu jauh dari gambaran sebuah hubungan normal. Bukan hubungan romantis, bukan kesepakatan bersama, dan jelas bukan pernikahan yang sah di matanya.

“Tidak pernah ada hubungan yang saya inginkan, setujui, atau jalani secara sukarela,” tegasnya.

Dia menjelaskan, saat itu usianya masih di bawah umur. Situasinya penuh paksaan dan dia sama sekali tak punya kebebasan. “Artinya, saya tidak memiliki pilihan nyata atau kemampuan untuk memberikan persetujuan,” tambahnya.

Nah, di sinilah masalahnya. Menurut Manohara, istilah ‘mantan istri’ itu punya implikasi kuat: seolah-olah ada hubungan yang sah, sukarela, dan dijalani oleh dua orang dewasa. Padahal, realitasnya sama sekali berbeda.

“Ini membingkai ulang situasi paksaan sebagai hubungan yang sah dan mendistorsi realitas dari apa yang terjadi,” ungkapnya. Kata-kata, bagi dia, punya daya rusak yang nyata.

Karena itulah, dia secara khusus menyasar media. Manohara meminta kepada redaksi, penulis, hingga platform digital besar seperti Google dan Wikipedia untuk menghentikan penggunaan label tersebut untuk dirinya.

“Terus menerbitkan artikel dengan penggambaran yang salah ini bukan hanya tidak akurat, tapi juga merupakan jurnalisme yang tidak etis,” katanya.

“Permintaan ini bukan tentang mengungkit masa lalu, ini tentang keakuratan, etika, dan penggunaan bahasa serta konteks yang bertanggung jawab. Penggunaan bahasa yang hati-hati itu penting, karena kata-kata memiliki konsekuensi,” sambung Manohara.

Dia menutup dengan pesan yang lebih luas: “Para penyintas berhak agar kisah mereka diceritakan dengan jujur dan bermartabat.”

Pesan itu jelas. Ini bukan sekadar protes, tapi upaya untuk mengembalikan narasi yang benar-benar sesuai fakta, setidaknya dari sudut pandangnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar